Angsana Yang Dirindukan


Bunga Angsana telah jatuh berguguran di kampus kita. Mereka jatuh beriringan terbawa angin sore kala itu, terasa indah untuk dipandang. Namun ketika esok pagi telah tiba, angsana itu telah tersapu tukang kebersihan uns yang bangunya lebih pagi dari mahasiswa semester 1 yang udah ngeluh tugas lalu upload di snapram.

Teringat indah masa itu ketika semester awal  kunikmati  dengan berjalan santai dari gerbang depan sampai gerbang belakang hanya untuk menikmati angsana yang gugur. Terkadang berhenti sebentar depan rektorat hanya untuk liat mbak-mbak gemes yang lagi jogging sambil nunggu dua sejoli yang lagi latihan pre wedding samping danau ditemeni gugurnya angsana. Angsana gugur adalah momen indah untuk maba ketika awal masuk kuliah. Namun, itu hanya sementara seperti doi yang kemarin sayang selamanya  tapi esoknya bilang kamu terlalu baik buat aku, hmm ababmu mbak.

Namun banyak juga mahasiswa yang biasa-biasa aja tentang angsana ini. Dari mas-mas yang udah semester tua dan mbak-mbak yang pipinya merah merona pun ngerasa cuek aja tentang angsana ini. Yang biasa kost di gang surya utama atau bangjo ngoresan ke utara pun ketika naik motor ke kampus rajin pakai helm dan masker biar nggak ketelen angsana ketika dibawa angin.

Bagi maba angsana adalah fenomena langka yang  sayang kalau nggak dimasukin snapgram, namun terlalu biasa bagi mahasiswa lama yang ingin cepat wisuda. Angsana gugur lalu tumbuh lagi. Proses yang indah membutuhkan waktu tumbuh yang lama. Dimulai dari yang biasa saja menjadi yang istimewa, semua butuh penantian yang lama.

Layaknya seorang manusia yang berbeda dari angsana, kita dianugrahi pikiran dan logika namun kurang optimal dalam mengungkapkan dalam sebuah aksi yang nyata. Waktu kita hanya dihabiskan untuk menunggu sebuah hal yang  tak pasti tanpa beraksi untuk sebuah perubahan yang hakiki
Angsana berubah jadi indah bukan instan tapi ada karena proses.

Manusia dapat membuat hidup lebih indah karena sebuah proses yang panjang. Mahasiswa bersuara lantang soal perubahan namun itu hanya sebatas retorika belaka, hanya bisa menuntut tanpa adanya usaha dan minim doa, calon-calon inisiator perubahan yang masih terlelap mimpi kemarin malam.
Keindahan angsana telah menjadi primadona semusim yang ditunggu seluruh rakyat kampus yang dinanti kehadiranya.

Seperti Angsana yang  membuat indah dan dirindukan di  kampus ini, marilah kita hiasi kampus dengan mahasiswa-mahasiswa yang peka terhadap keadaan. Pemikiran-pemikiran kritis dan juga aksi nyata dalam perubahan, walaupun keesokan harinya hilang disapu namun keindahan idealisme mahasiswa tak akan pernah hilang dan akan selalu ditunggu. Sebuah aksi nyata yang tak lekang oleh waktu dan masih akan ditunggu banyak karena keindahan idealisme mahasiswa itu. Angsana selalu dirindukan bagi para penikmatnya dan juga mahasiswa yang selalu dirindukan oleh rakyat jelata.

Kembalilah kepada buku pengetahuan nyang telah usang itu. Temani dirimu dengan buku-buku bermutu dan sembuhkan penyakit ‘pendangan sempit’ dengan menjelajah. Benar kata orang bijak, dunia itu seperti buku dan mereka yang tidak pernah bepergian hanya membaca sampulnya saja. Temukan dan kenali Indonesia kita agar kebijakan yang kamu buat nanti benar-benar mewadahi kepentingan bangsamu. Kenali Indonesia kita agar kamu tidak hanya sibuk megidolakan seni popular tetangga.

Jika ada satu prestasi penting yang harus kamu capai selama menjadi mahasiswa, itu adalah kemampuan untuk berpikir dan berperilaku kritis, kreatif dan strategis. Setiap kali melihat persoalan, kamu akan sempatkan untuk merenung dan berpikir mendalam sebelum merespon karena kamu orang yang kritis. Kamu juga mampu menghadirkan pilihan-pilihan solusi karena menjadi kritis saja tidak cukup jika tidak mampu menghadirkan pilihan solusi untuk membuat negeri ini menjadi indah layaknya angsana yang dirindukan.

Jangan hanya menuntut perubahan namun jadilah bagian dari perubahan!

Aba Rohmad

Mahasiswa yang suka angsana tapi lebih suka dee

0 Komentar