Cinta Itu Harus Fi Sabilillah



“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
[QS. Al Hujuraat (49):13]"

Dalam kehidupan kita pasti tak asing dengan kata "Cinta" namun kita sering melupakan hakikat cinta yang sebenarnya. Cinta terkesan bermakna sempit hanya untuk lawan jenis. Bagi sebagian kalangan, namun melupakan makna sebenarnya bahwa cinta juga berlaku untuk seluruh makhluk hidup. Bagi seorang anak muda yang baru mengenal cinta pasti akan memposisikan cinta diatas dari segalanya dan terkadang karena cinta akan membuat anak muda menjadi hilang akal. Bersedia melakukan apa saja demi cinta semu yang diimpikan bersama pasangan yang dia cintai. Untuk menggapai cinta yang diinginkan pasti akan menghalalkan segara cara dan terkadang mengesampingkan norma-norma yang berlaku di masyarakat kita. Lantas, bagaimana perspektif cinta menurut islam? dan apa yang seharusnya kita lakukan?

Cinta itu mulia dan cinta itu adalah hal yang boleh-boleh saja menurut islam, namun harus ada batasan-batasanya. Dalam Surat Al - Isra ayat 32 yang berarti "Dan janganlah kamu mendekati zina" maka dari itu perwujudan cinta yang tidak sesuai dengan islam dan melewati batasan-batasanya adalah haram. Masa muda sekarang sangat gandrung akan yang namanya pacaran, dipengaruhi dengan sinetron-sinetron yang ada di televisi kita. Selain itu ada juga yang berbentuk film, novel, dan adat-adat dari luar yang tak sesuai dengan islam namun sudah menjamur di kalangan pemuda sekarang ini. Pacaran adalah hal yang lazim sekarang ini dengan berlomba-lomba mengumbar kemesraan dimuka umum dan menisbatkan romeo juliet sebagai standar dari sebuah hubungan percintaan. Kalau kita lihat anak-anak sekolah sd, smp, sma telah mengenal apa itu cinta, pacaran dan bahkan di lingkungan perkuliahan telah melakukan hal-hal yang melampaui batas norma-norma yang ada, naudzubillillah min dzalikHal-hal seperti ini yang harus diperhatikan oleh orang tua secara khusus agar para penerus bangsa ini tidak jatuh dalam kenikmatan dunia semu semata.

Lantas apa yang harus kita lakukan? Allah SWT berfirman dalam surat An-Nur ayat 30 yang berarti 

”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’”

Sebagai seorang muslim wajib kita untuk menaati perintah Allah termasuk juga dalam urusan asmara, kita harus menjaga pandangan ke lawan jenis. Jika seorang mengumbar matanya, maka dia telah mengumbar syahwat hatinya, sehingga dia termasuk zina mata.
Di zaman sekarang ini, Ketika kita keluar rumah, banyak hal yang menggoda pandangan kita ke arah yang haram. Terlihatlah oleh pandangan kita, wanita-wanita yang keluar rumah tanpa menutup aurat, tanpa sedikit pun rasa malu di hadapan Allah Ta’ala yang telah menciptakan dan memberikan berbagai nikmat kepadanya. Sebagian mengenakan pakaian yang ketat, sebagian mengenakan rok mini, dan sebagian lagi mengenakan pakaian yang transparan. Mereka berpakaian, akan tetapi pada hakikatnya telanjang, ibarat kata pepatah dari mata turun ke hati pertama kita memandang perempuan lalu kita akan merasakan cinta yang menggebu-nggebu di dalam hati. Dalam konteks ini kita harus meredam perasaan dan hati kita agar tak jatuh kepada cinta semu yang berujung pada hal zina

Kalau memang kita mencintai dan menyayangi dia sampai tak bisa melupakan dalam tidur kita, hanya ada satu jalan untuk mengobatinya yaitu dengan menghalalkan perasaan kita dengan menikah, dan itu akan menghindari kita dari perbuatan zina. Lantas ketika cinta bertepuk sebelah tangan apa yang akan kita lakukan? hanya kepada Allah kita berserah dan memohon pertolongan karena jodoh sudah ada yang mengatur. Pada dasarnya islam memandang rasa cinta sesama manusia adalah suatu fitrah dan wajar terjadi dan cinta tersebut dapat diwujudkan dengan saling tolong menolong dan menjalin silaturrahmi. Adapun islam tidak membolehkan umatnya untuk menyalahgunakan cinta untuk hal-hal yang dilarang dalam agama misalnya fenomena pacaran sebelum nikah yang sudah menjadi budaya masyarakat saat ini.

Pada hakikatnya cinta adalah menyangkut kehidupan spiritual dan emosional seseorang dan cinta yang paling benar adanya adalah cinta kepada Allah SWT. Cinta sendiri dapat menjadi energi yang menggerakkan kehidupan manusia jika dilakukan dengan cara yang benar. Intinya cinta itu harus Fi Sabilillah harus ada dijalan Allah dan mendekatkan kita kepada takwa.

0 Komentar