Seperti ketika kita melihat
judunya, tulisan ini saya buat karena terinspirasi dari buku “Mencintai Sepak
Bola Indonesia Meski Kusut” Karya dari
mas Miftakhul F.S. Ketika saya menamatkan buku tersebut sangat terasa sekali
bahwa yang dimaksut “Kusut” ini adalah banyaknya permasalahan yang dihadapi
sepak bola bangsa ini. Negara ini dimasa lalu memang pernah mendapat julukan
macan asia, namun itu telah lampau sekali,kala itu sepak bola Indonesia cenderung
stabil dari segi pemain dan juga kompetisinya. Namun, apabila kita melihat realita sekarang
sepak bola telah dibenturkan dengan berbagai hal, salah satunya politik
kepentingan dari segelintir orang. Kalau diibaratkan dengan istilah pengajian
orang jawa, sepak bola kita bagaikan “bancaan” yang diputar oleh orang-orang
yangmemiliki kepentingan masing-masing. Sepak bola yang sejatinya menjadi
hiburan bagi semua orang hanya menjadi ajang cari uang untuk diri sendiri
Sepak bola itu membahagiakan,
memang tak ada habisnya dibahas. Olahraga ini menjadi pemersatu warga dunia
yang terpisah secara etnis, agama, budaya, dan ideologi. Semua bersatu dan
bersuka cita karena memang sepak bola dilahirakan sejatinya untuk membahagiakan,
dari kaum buruh, protelar, marginal, dan bangsawan. Sepak bola adalah sarana
paling tepat untuk mengekspresikan diri, baik di lapangan, di tribun, maupun di
layar kaca. Karena itu sepak bola akan selalu menyenangan, kendati kita juga
harus siap menerima kekalahan. Sebab menuju sebuah kebahagiaan itu tak tentu
linier, selalu ada liku. Keyakinan saya dan mungkin anda juga bahwa sepak bola Indonesia
akan mendapatkan kebahagiaan tidaklah mudah.
Mungkin kalau dibilang mengenal dan
memahami sepak bola Indonesia, saya masih dibilang amatir. Saya tak pernah
berada diatas tribun mendukung timnas Indonesia seperti kawan-kawan saya,
mentok hanya lihat di layar kaca. Dari kecil memang tak memiliki bakat untuk
bermain sepakbola dan bahkan kompetisi antar kelas di SMP dan SMA hanya menjadi
pemain cadangan atau pemain ke-12. Namun ketika saya mendengar timnas Indonesia
menang atau juara ada rasa kebahagian tersendiri, ketika C. Gonzales memborong
2 Gol saat berjumpa Filipina pada Semifinal Piala AFF Suzuki Cup 2010, atau
ketika membantai Harimau Malaya 5-0 di awal kompetisi, walau akhirnya tumbang
di Final. Atau saat Evan Dimas menjuarai Piala AFF U-19 walau harus melewati
drama adu pinalti, peristiwa ini selalu memberi kesan bagi saya pribadi dan
bangsa Indonesia sekarang.
Pengurus sepak bola yang ada kini
lebih menyerupai politisi ketimbang pamong olagraga. Celakanya lagi, sikap ini
menyebar hingga kepengurus sepakbola provinsi hingga kota di nusantara. Tidak
mengherankan bila didapati tokoh politik lokal 'nyambi' sebagai pengurus sepak
bola. Walhasil segala prestasi sepak bola yang mandek jadi keniscayaaan
mengingat pengurusnya sibuk berpolitik ketimbang membina. Pun halnya polemik
yang terjadi antara sesama pengurus PSSI baik pusat maupun di dearah. Rasanya
inilah titik krusial krisis prestasi sepak bola Indonesia.
Sekalipun negara ini kering
prestasi sepak bola, namun bukan berarti nusantara sepi dari talenta. Sudah
banyak bukti bagaimana bocah dari ujung Sabang hingga Merauke mampu
mengharumkan merah putih di ajang internasional. Dengan segala bakat melimpah
manusia di nusantara, sudah pasti ada potensi besar bagi negara ini untuk
berbicara di level dunia. Namun yang jadi pertanyaan, mengapa segudang talenta
ini belum terolah untuk mencetak prestasi saat dewasa.
Dengan segala minus yang ada,
masyarakat masih menaruh harap yang tinggi pada kebangkitan Indonesia, termasuk
di bidang sepak bola. Melihat kemenangan Indonesia 8-0 atas Filipina diajang
AFF-U16 semalam, membuktikan masih ada asa bahwa sepakbola negeri ini akan
berprestasi suatu saat nanti. Banyaknya talenta muda di negeri ini memunculkan
optimistis bahwa gelar Macan Asia bukanlah hal yang mustahil untuk didapatkan. Tetap
kawal selalu, kalau terpuruk angkatlah, kalau berjaya sanjunglah. Dukungan itu
perlu, namun doa dan usaha tetap nomer satu. Memang ruwet, tapi setidaknya
mulailah mencoba mencintai sepakbola negeri ini, walau kusut.

0 Komentar