Belajar dari Pak Tjokro "Jang Oetama"



Apabila kita kembali mengingat masa kecil, saat pelajaran sejarah kita diajarkan oleh guru SD kita tentang bagaimana menjadi seorang pribadi yang cinta tanah air. Dengan contoh beberapa pahlawan yang dipaparkan mulai dari zaman penjajahan belanda hingga masa kemerdekaan Republik Indonesia. Kita dikenalkan salah satu sosok yang bernama H.O.S Tjokroaminoto Pemimpin dari Sarekat Islam, seorang tokoh pembaharu bangsa yang mewariskan pemikiran-pemikiranya untuk mewujudkan Indonesia yang merdeka. Pak Tjokro adalah seorang negarawan ulung yang juga salah satu intelektual muslim yang sangat disegani oleh lawan maupun kawanya pada saat itu. Dari tangan dingin beliau, dapat mendidik para penerus-penerus perjuangan bangsa seperti Soekarno muda, semaon, Kartosoewirdjo.

Pak Tjokro sendiri adalah seorang keturunan bangsawan Majapahit dari Ayahnya dan juga keturunan wali songo Sunan Ampel dari ibunya. Dari keturunan bangsawan tersebut membuat Pak Tjokro mendapat keistimewaan untuk memperoleh pendidikan dari sekolah Belanda pada masa itu, beliau ini memiliki kecerdasan diatas rata-rata diantara para intelektual pribumi yang belajar bersamanya. Dalam benaknya telah mempertanyakan bagaimana dia tega melihat penderitaan bangsa ini yang dihisap kekayaannya oleh belanda sedangkan sebagai seorang intelektual pribumi apakah dia hanya akan diam saja melihat semua ini. Akhirnya dia meninggalkan gelar kebangsawanan dan seluruh fasilitasnya untuk berkelana menyusuri negeri ini untuk belajar agama dan memahami makna kehidupan ini. 

Pak Tjokro sendiri memiliki kecerdasan yang langka pada saat itu, yaitu menulis, terutama tulisan jurnalistik. Banyak tulisan beliau mengenai kondisi mengenaskan rakyat negeri akibat eksploitasi perusahaan asing dan pendudukan kolonial belanda. Tulisan-tulisan beliau akhirnya dimuat pada salah satu surat kabar di surabaya, yaitu suara surabaya. Bakatnya ini nanti menjadi modal besar dan menjadi salah satu alat perjuangan yang efektif ketika mulai berjuang di Sarekat Islam dan pergerakan lainya.

Di Sarekat Islam sendiri, beliau menjadi salah satu figur penting dalam merancang dan membesarkan organisasi tersebut. Bermula dari pertemuan dengan H. Samanhudi, seorang pedagang batik di Laweyan yang sengaja datang khusus untuk bertemu dengan Pak Tjokro mendiskusikan keberlanjutan organisasi Sarekat Dagang Islam yang dibentuknya, H. Samanhudi melihat masa depan SDI akan cemerlang apabila dibantu oleh Pak Tjokro. Setelah berjalanya beberapa waktu akhirnya Pak Tjokro melakukan perbaikan organisasi mulai dari administrasi dan juga pembinaan kader-kader SI agar selalu terjaga Biah Islamiyahnya.

Dibawah tangan dingin beliau, SI melejit menjadi salah satu organisasi pribumi paling besar zaman itu, SI dibawah Pak Tjokro bukanlah gerakan biasa, tetapi merupakan gerakan raksasa hingga memiliki anggota paling banyak dengan jumlah 2.5 juta jiwa yang tersebar di seluruh nusantara, Hal ini lah yang menjadikan beliau dijuluki "Sang Raja Tanpa Mahkota di Tanah Jawa". Dibandingkan dengan organisasi lain seperti Budi Utomo atau PKI, SI merupakan sebuah organisasi besar yang memiliki tujuan yang jelas dan merangkul semua kalangan. Corak keagamaan dari ikatan yang baru dibangun dari bawah hingga keaatas, memberikan pelayanan kemasyarakatan dari semua bidang dan tetap teguh mempertahankan nilai-nilainya untuk melawan pemerintah penjajah. Saking terkenalnya SI banyak tokoh-tokoh bangsa yang belajar pada SI seperti halnya Buya Hamka. Agoes Salim dan Abdul Moeis yang menjadi Partner kerja di SI.

Selain berfokus pada kaderisasi organisasi, SI juga membangun hubungan yang baik dengan organisasi lainya, untuk mewujudkan Indonesia merdeka perlu adanya keselarasan dalam bergerak dengan Islam sebagai pedoman hidup dan merangkul elemen lainya. Pada 1992 SI menginisiasi kongres Al - Islam dengan mengundang organisasi Islam lainya seperti Muhamadiyah, NU, Al-Irsyad dan lain-lainya, tujuanya untuk penyatuan langkah umat dalam sebuah kesatuan Pan Islamisme, meskipun disadari banyak perbedaan, namun pada akhirnya mereka mengesampingkan ego dan membuat kesepakatan umum bahwa persatuan gerakan islam sangatlah penting. Belajar dari SI untuk merefleksikan keadaan bangsa yang sekarang bahwa dulu mereka berusaha untuk selalu menjaga persatuan untuk kepentingan umat tanpa mengkafirkan satu sama lain.

Setelah meninggalnya Pak Tjokro Sarekat islam mengalami kemunduran, hal ini disebabkan oleh kurangnya sistem kaderisasi yang baik dan rongrongan dari pihak eksternal seperti belanda dan komunis. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari SI, kita harus membangun tujuan politik baru, ideologi baru, dengan mengedepankan Tauhid dan nilai-nilai islam, saat ini kita telah masuk pada sebuah dunia yang menuju akhir zaman dengan segala kedok modernisasi. Tantangan masyarakat kita adalah berdiri dengan kedaulatan dengan islam sebagai tameng, dengan mengedepankan nilai tauhid dan menjaga persatuan. Selain itu Pak Tjokro juga mengamalkan 3 nilai utama yang menjadi pandangan hidup yaitu semurni-murni tauhid, setinggi-tinggi ilmu, dan sepandai- pandai siasah.
Pak Tjokro hanyalah pemegang amanah Allah untuk berdakwah melalui sarekat islam, maka selanjutnya adalah kita sebagai generasi muda untuk melanjutkan estafet dakwah demi terciptanya Islam Rahmatan lil Alamin.

0 Komentar