Umat Islam hari ini mengalami tantangan yang hebat dalam perjalanan dakwahnya. Hal ini ditandai dengan adanya “Ghazwul Fikr” atau yang biasa kita kenal dengan perang pemikiran. Bagi saya istilah perang pemikiran sendiri kiranya kurang tepat, saya lebih sepakat bahwa Perang pemikiran ini diistilahkan sebagai infiltrasi pemikiran, mengapa? Perang sendiri adalah pergulatan 2 pihak yang berseteru, namun dalam konteks ini Islam melalui pemuda telah banyak disusupi oleh pemikiran-pemikiran barat yang liberal tanpa didasari oleh Al-Quran dan Hadist. Hal ini dibuktikan dengan Pemuda sekarang yang telah Ter-sibghah terhadap pemikiran kebarat-baratan seperti sosialis, kapitalis, marxsisme dan cenderung dari mereka merasa ragu terhadap agama mereka sendiri dan tak jarang menentang fatwa para Ulama.
Syed Ali Tawfik Al-Attas mengemukakan sebuah teori “Confuse Of Knowledge” atau dapat diartikan sebagai kekacauan dalam ilmu pengetahuan. Seiring berjalanya waktu budaya paganisme atau jahiliah senantiasa bermetamorfosa lalu menyusup kedalam alam bawah sadar manusia terutama pemuda dan akhirnya muncul pemikiran bahwa hari ini peradaban Barat adalah Role Model kehidupan masa kini dari segi sosial, politik, hukum dan lain-lainya. Tanpa disadari pemikiran-pemikiran liberal ini telah memasuki relung jiwa pemuda diimplementasikan menjadi sebuah gaya hidup kapitalisme dan hedonisme yang menjadikan standar apabila meniru mereka maka kehidupan ini akan maju dan akhirnya mulai meninggalkan ajaran-ajaran agama dengan dalih kebebasan berpikir dan menentukan pilihan.
Kemajuan dunia barat secara tidak sadar telah menutupi pemahaman kaum lemah pikiran, lemah aqidah, dan lemah wawasan. Banyak yang memandang bahwa barat telah memberikan contoh kedisiplinan, kebersihan, teknologi, dan tradisi keilmuanya. Tidak banyak dari orang melihat barat dari segi yang paling fundamental, seperti dasar berpikir, sudut pandang pemikiran dan keyakinan dasarnya terhadap segala sesuatu termasuk dalam aspek spiritualitas. Persoalan mendasar umat sekarang adalah keliru dalam memandang kehidupan, banyak manusia yang merasa lebih pintar dari Sang Pencipta, Tuhan mulai dipersepsikan sebagai pihak yang malas dan lupa untuk mengatur kehidupan ciptaanya, hal ini dilihat dari konflik horizontal yang terjadi antara masyarakat sehingga menimbulkan pemahaman bahwa agama adalah sumber konflik bukan sebagai solusi dari permasalahan.
De-Westernisasi
Barat di masa lalu memiliki sebuah traumatis terhadap gereja sebagai pusat pemikiran dan sumber hukum yang harus dilaksanakan bagi warganya. Gereja mencoba untuk melakukan penyeragaman pemikiran sesuai dengan yang mereka inginkan sehingga menghambat sebuah pemikiran-pemikiran dari kalangan intelektual dalam ilmu pengetahuan, moralitas, dan hubungan sosisal. Hanya gereja saja yang pantas menentukan arah kehidupan, hukum dan tatanan masyarakat. Dengan tekanan seperti itu akhirnya memunculkan perlawanan dari kalangan intelektual barat pada masa itu dengan gerakan Renaissance.
Renaissance menurut Jules Michelet adalah gerakan kelahiran kembali dengan perwujudan tatanan sosial baru dan kebebasan berpikir bagi manusia dalam menentukan tujuan hidup. Agama dipaksa untuk duduk manis di tempat ibadah dan tidak boleh ikut campur dalam ruang publik. Diskursus Teologi hanya boleh dilakukan dengan cara diam-diam namun orang teriak anti agama boleh secara terang-terangan. Hegemoni diganti dengan hegemoni. Barat adalah alam pikiran dan pandangan hidup.
Barat adalah sejarah dalam pencarian “kebenaran”, Peradaban barat dikenal dengan imperium Romawi dan Yunani yang melahirkan banyak filsuf terkenal, dimasa pertengahan dan modern pun budaya keilmuan barat adalah rujukan dari beberapa pemikiran yang berkembang didunia saat ini. Maka hari ini kita mengenal sosok Nietzche dengan istilah “God Is Dead” yang berarti Tuhan telah mati dari kehidupan dan jiwa-jiwa yang bebas merasa seakan menjadi fajar yang telah menyingsing untuk menyinari kehidupan. Tuhan bukan lagi kekuasaan yang absolut, semua relatif. Apabila anda mengklaim kebenaran hanya milik Tuhan semata maka itu salah, Ia telah mati. Nietzche mengatakan bahwa Tuhan adalah tirani dalam hati yang mengekang kehidupan, beriman pada tuhan tidak bebas dan bebas berarti tanpa iman. Karl Marx mengatakan bahwa agama adalah candu bagi masyarakat,
Tidak puas dengan mengangkat Tuhan dalam makna kebebasan pikiran, mereka mengangkat sebuah konsep liberalisme. Liberalisme sendiri membawa gagasan kepelbagaian, kesamarataan, dan keraguan yang menyeluruh. Kebebasan dalam menentukan hak dalam berpikir, kebebasan dalam dalam menentukan kebenaran yang relatif. dan menjadi hak semua umat manusia yang berpikir. Kebenaran adalah sebuah ilusi dari sebuah kebohongan yang disepakati, dalam hal ini adalah agama dan wahyu-wahyunya.
Pluralisme dan Islam
Hari ini seakan umat dibenturkan dengan istilah-istilah yang menjebak dan membingungkan. Seperti halnya Pluralisme Agama. Pluralisme bermakna sebagai pengakuan terhadap kualitas majemuk atau toleransi terhadap kemajemukan. Dapat diartikan juga sebagai sebuah toleransi, dimana masing-masing agama, ras, suku budaya seharusnya saling menghormati dan berpegang dalam prinsip masing-masing. Masyarakat dihadapkan sebuah pemahaman bahwa tidak ada kebenaran yang tunggal dan berbeda adalah sebuah keniscayaan. Kenyataanya dalam kehidupan ini dibangun dari berbagai pemikiran maka menjadi sebuah kewajaran bahwa semua dasarnya sama yaitu kebaikan pada sesama manusia tanpa memandang latar belakang apapapun.
Kebeneran adalah relatif, bahwa pluralisme mengatakan bahwa semua agama hal mengatakan kebaikan dan tidak boleh menyakini bahwa kepecayaan mereka adalah yang paling benar. Bahkan dalam satu pengertian, pluralisme mengajarkan bahwa sebenarnya tidak ada kebenaran yang hakiki. Peter Berger Seorang Sosiolog Amerika menyatakan bahwa sejatinya sekularisasi telah gagal karena pengaruh agama adalah salah satu faktor yang masih kuat bagi masyarakat. Maka dari itu dimunculkan istilah Pluralisme sebagai pengganti sekulerisasi dengan membenturkan pemahaman agama dan menyatakan semua sama. Salah satu senjata adalah HAM dengan dalih bahwa semua umat manusia memiliki kedudukan yang sama, hak yang sama, dan juga kewajiban yang sama. Pertentangan permasalahan sosial muncul seperti halnya kebebasan berpendapat dan kesetaraan gender dengan dasar HAM itu sendiri. Maka akhir-akhir ini muncul gerakan-gerakan yang mendasarkan HAM seperti Feminisme, LGBT muncul ke permukaan masyarakat.
Pemuda dan Gerakan Pembaharu
Soekarno pernah berkata “Jangan sesekali melupakan sejarah”, Mungkin kata-kata ini yang perlu direfleksikan oleh pemuda saat ini dalam mengambil keputusan dan dasar dalam berfikir perlu landasan yang jelas dan dalam Islam pula perlu mengkaji lebih dalam terkait dasar agama dan hukum-hukumnya. Gerakan Liberalisasi, Sekularisasi, Pluralisme telah mengendap dalam pemikiran-pemikiran pemuda ini sehingga mengemukakan teori-teori yang menjadi rujukan anak muda sebagai dasar berpikir dan menelanya secara mentah-mentah. Perlu kita sebagai generasi muda Islam untuk memulai mengakaji Al-Quran dan Hadis sebagai landasan utama dalam berpikir sehingga apabila dibenturkan dengan pemikiran yang kurang sesuai kita dapat membalasnya dengan dasar pemikiran yang dalam pula. Menurut HAMKA, orang yang menyatakan bahwa semua agama sama sebenarnya dia adalah orang yang ragu-ragu dan tidak beragama.
Pemuda perlu memahami lebih dalam lagi bahwa Islam yang dibawa oleh Rasullulah itu adalah Syumul yaitu menyeluruh dalam segala aspek kehidupan umat. Umat Islam hari ini telah menemukan Ghirah yang baru dalam memperjuangkan agama ini. Dibuktikan dengan semaraknya kajian-kajian keilmuan yang semarak di masjid-masjid. Masjid hari ini tak cuman dipandang sebagai tempat singgah dan ritual spiritualitas semata, namun mulai diadakan sebuah gerakan kebangkitan umat dan banyak diinisiasi oleh para pemuda. Selain kita belajar soal ilmu agama kita perlu mengkaji keilmuan umum dan coba untuk dimplementasikan dengan nilai-nilai Islam.
Dalam Aspek ekonomi hari ini kita berada dalam kubangan kapitalisme yang mencekik, maka pentingnya kita mengerti konsep ekonomi yang syariah yang mampu memberikan solusi dari akar rumput lalu menuju ranah ekonomi makro. Selain itu dalam masalah hukum sering kita temui ketidakadilan, maka perlunya kita mempelajari sistem hukum syariah dan memberikan keadilan yang seadil-adilnya. Masih banyak lagi permasalahan umat yang ada dipermukaan, dan peran pemuda sangatlah ditunggu oleh masyarakat. Sebagai seorang pemuda Muslim sudah menjadi tugas kita untuk mengambil peran dalam pembaharuan. Dalam menghadapi arus pemikiran barat yang liberal perlu dilawan dengan pemahaman dan dasar berfikir yang dalam. Lalu dibarengi dengan amalan ibadah sehingga membentuk keimanan yang kuat bagi seoran muslim. David Thomas mengatakan bahwa “Apa artinya Athena tanpa Jerussalem”. Maksudnya apa artinya kemajuan ilmu pengetahuan jika tanpa didukung agama. Apa arti ilmu tanpa iman.
Sumber Gambar : Kaskus
Referensi Bacaan : Misykat (Refleksi Tentang Westernisasi, Liberalisasi, dan Islam) Karya Hamid Fahmy

0 Komentar