Berkembangnya fenomena hijrah di kalangan masyarakat terutama pemuda saat ini, secara tidak langsung merubah persepsi mereka dalam memahami agama itu sendiri. Adanya pihak yang mendukung dan tak jarang banyak orang yang mencela kaum-kaum hijrah tersebut. Fenomena hijrah itu sendiri mulai marak di tengah kaum urban yang secara lingkungan dalam menerima informasi lebih cepat ibarat ombak yang menggulung pantai. Gerakan tersebut biasanya dimulai dengan aktifnya kaum-kaum muda dalam pengajian yang diadakan oleh Ustadz-ustadz ternama, merubah lifestyle dari berpakaian, bergaul, dan hal-hal lainya. Maraknya konten-konten hijrah di media sosial juga menjadi faktor pendukung dalam proses ini.
Fenomena ini tidak bisa dipungkiri menjadi primadona bagi kalangan anak muda sebagai ruh baru dalam agama Islam ini sendiri. Hari ini Islam menjadi agama yang terbanyak pengikutnya namun dalam implementasinya sendiri Islam belum sepenuhnya hadir dalam kehidupan kita sehari-hari. Barangkali dengan gerakan ini merupakan pintu awal kejayaan Islam itu sendiri dengan pemuda sebagai aktor utamanya. Disisi lain gerakan hijrah menjadi perbincangan karena terindikasi awal masuknya ke kelompok radikal, cenderung eksklusif mudah mengkafirkan orang-orang dan menjauh dari masyarakat. Munculnya skeptisme dalam masyarakat bahwa hijrah sebagai sebuah nilai dan konsep penting dalam Islam, makin kehilangan relevansinya dari kondisi sosial dan politik yang mendera mayoritas kaum muslim di Indonesia, bukannya makin terang makna dan pengertiannya, sebaliknya justru makin kabur dari apa yang dimaksudkan di dalam al-Qur’an dan yang pernah dipraktikkan Nabi dan para sahabatnya di masa Islam perdana. Hijrah hanya dimaknai secara artifisial dan tercerabut dari konteks kehidupan umat Islam hari ini, terutama para pemudanya.
Maka, akan timbul pertanyaan, apakah hijrah itu sebenarnya? apakah hijrah hanya sebatas mengganti busana menjadi syar'i? atau hijrah hanya dimaknai dengan kita rajin berdakwah dengan membagi konten-konten Islami di media sosial? apakah hijrah itu adalah pasrah terhadap kezaliman dan ketidakadilan seperti adanya penggusuran di sekitar kita? dan bagaimana menanggapi skeptisme masyarakat terhadap hijrah itu sendiri?
A. Pengertian Hijrah
Hijrah sendiri dalam KBBI bermakna sebagai bermakna berpindah atau menghindar untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain dengan alasan tertentu seperti untuk keselamatan atau kebaikan. Makna hijrah itu sendiri telah lama digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai bahasa dakwah oleh para Ustadz dan menjadi bahasa sehari-hari. Hijrah dalam terminologi Al-Quran merupakan sebuah pola dan strategi perjuangan fi sabilillah menujuh Futuh dan Falah. Pada masa Nabi Muhammad Shallallahhu Alaihi Wassalam merupakan tindakan praktis, gerak langkah, serta strategi perjuangan.
Dalam surat Al-Muddasir ayat 5, Allah Berfirman: "Warrujza Fahjur" yang artinya "Dan tinggalkanlah hal-hal keji (dosa)". Hijrah dalam pengertian ayat diatas berarti meninggalkan segala macam sifat dan perbuatan keji yang tidak diridhai oleh Allah. Maka perlu kita mengingat dalam syahadat kita sebagai awal kita masuk Islam bahwa hal tersebut merupakan pernyataan tauhid dan sebagai gerbang awal hijrah itu sendiri. Sebagian besar Ulama membagi hijrah menjadi dua bagian besar: hijrah Makaniyah dan hijrah Maknawiyah. Hijrah makaniyah adalah perpindahan fisik terkait ruang geografis, sedangkan hijrah maknawiyah adalah hijrah substansial yang diantaranya menyangkut aspek pikiran, mental dan keyakinan. Misalnya, dari yang berpikiran picik menjadi terbuka, dari yang bermental pendendam menjadi pengampun dan sebagainya.
Sejarah Islam mencatat ada beberapa peristiwa hijrah yang dilakukan oleh sahabat, dan Nabi Muhammad Shallallahhu Alaihi Wassalam sendiri. Pertama adalah rombongan Kaum Muslimin yang hijrah ke Habasyah yang bertujuan untuk mencari suaka politik atas tekanan kaum quraisy di Makkah, para sahabat yang turut dalam rombongan hijrah ini adalah Usman bin Affan, Ja’far bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, dan Abdurrahman bin Auf. Selanjutnya adalah proses Hijrah dari Makkah ke Yastrib dengan alasan yang sama, pada proses ini sendiri Rasullulah Shallallahhu Alaihi Wassalam menggunakan hijrah sebagai strategi politik dengan mengubah Yastrib menjadi Madinah dan menjadikanya sebagai pusat Pemerintahan Islam.
Berdasarkan hal diatas, dapat dipahami bahwa pertama-tama pengertian hijrah adalah sebuah perjuangan dan perpindahan dari kondisi tertentu yang kurang atau tidak baik menuju kondisi tertentu yang lebih baik dalam berbagai aspeknya, baik secara lahiriah maupun batiniah.
B. Hijrah Masa Kini
Dewasa sekarang, hijrah menjadi identik dengan segala hal yang berbau relijiusitas personal yang ditandai dengan misalnya, perubahan selera berbusana khususnya bagi perempuan, yang sebelumnya tidak berhijab kemudian memutuskan berhijab. Dari yang telah berhijab namun belum bercadar kemudian memutuskan bercadar. Sedangkan bagi para lelaki, mereka yang belum memelihara jenggot kemudian memutuskan untuk memelihara jenggot. Dari yang celananya panjang kemudian memutuskan untuk memakai celana yang ujungnya menggantung di atas mata kaki atau memakai jubah ala Arab dan lain sebagainya. Pendeknya hijrah sekadar dipahami dan dimaknai sebagai pendisiplinan tubuh oleh imperatif syariah.
Masyarakat umum menilai bahwa melihat kaum-kaum hijrah cenderung skeptis karena melihat ada sisi "Kemunafikan" dalam diri mereka. Bagaimana seringnya mengumbar kata-kata bijak, membagikan konten Islami hijrah-hijrah dll, namun dalam praktek kehidupannya masih sering ditemukan sisi ketidaksempurnaan dan cenderung munafik. Selain itu kaum hijrah cenderung ekslusif dengan bergerombol terhadap kelompoknya sendiri, orang umum menganggap bahwa adanya perubahan dari cara bergaul dari yang sering nongkrong bareng, namun tiba-tiba menjauh. Sering ditemuinya perdebatan kusir mengenai prinsip antara kaum hijrah atau tidak. Bagaimana dengan mudah menyalahkan satu sama lain bahwa yang belum hijrah itu penuh dosa dan disisi lain menganggap orang yang sudah hijrah itu sok suci.
Dari sekian banyak perbincangan orang-orang hijrah terutama kaum "JOFISA" atau Jomblo Fisabilliah yang selalu membahas bagaimana nikah muda, dilihat intensitas sharing di media sosisal tentang akun sosisal media yang isi kontennya "Menye-menye" daripada subtansi nikah itu sendiri. Banyak akun-akun yang memainkan psikologi followersnya untuk hanya sekadar baper dan mengesampingkan untuk mencari ilmu agama yang lebih dalam lagi. Kaum muda mudah untuk baper dalam urusan asmara dan munculnya penyakit Virus Merah Jambu. Bagi orang lain memandang fenomena ini adalah sebuah "Cringe" dan akan membuat mereka malas berinteraksi dengan orang-orang yang sedang dimabuk cinta hijrah.
Pada ranah sosial, kaum Hijrah sendiri lebih suka untuk berkumpul dengan orang-orang yang sepaham dengan dirinya sendiri, ikut kajian, rihlah bersama. Namun ketika ada permasalahan sosial yang ada disekitar masyarakat seperti penggusuran rumah warga atau permasalahan sosial yang ada di masyarakat cenderung abstain atau kagok melihat permasalahan tersebut. Ada anggapan bahwa yang terpenting adalah bagaimana merubah diri sendiri menjadi soleh dan memberikan perubahan suatu saat nanti.
C. Menyelamatkan Hijrah
Perlu kita pahami diawal adalah ditenggah masyarakat sekarang sering sekali berkembang "Logical Fallacy" atau kecacatan dalam berfikir. Salah satu contoh adalah apabila kita membagikan atau menyampaikan sebuah nilai-nilai kebenaran sering sekali kita dicap munafik karena apa yang kita katakan tak sejalan dengan perbuatan kita. Maka dalam teori "Ad Hominem" yang intinya adalah apa yang kita sampaikan adalah kebenaran walau diri kita belum sempurna maka tak mengurangi kebenaran itu sendiri. Ibaratkan kita seorang yang selalu berbohong namun ketika kita bilang 1+1 = 2 maka itu sebuah kebenaran dan tak mengurangi kebenaran itu walau kita sering berbohong. Dalam konteks dakwah apabila dalam menyampaikan kebenaran harus menunggu semua orang sempurna maka kebenaran itu tak akan pernah tersampaikan karena semua orang ragu dengan dirinya karena belum sempurna, karena sejatinya setiap manusia itu memiliki kekurangan dan tugas kita sebagai seorang muslim untuk selalu menyampaikan kebenaran kepada umat manusia, namun tetap dibarengi proses perbaikan diri yang baik dan lurus.
Sebagai orang yang ingin menjadi lebih baik, perlu adanya pelurusan niat, jangan sampai kebaikan yang kita ingin capai ternodai oleh sifat-sifat sombong kita karena merasa "Sedikit" lebih benar dari orang lain. Sembari memperbaiki amal ibadah kita juga perlu ditambah dengan wawasan ilmu dengan hadir di majelis-majelis ilmu. Pelajarilah buku-buku sebagai langkah awal dalam memahami permasalahan. Cukuplah untuk terjun dalam hal yang "menye-menye" lalu coba untuk melihat permasalahan yang ada disekitar kita. Bahwa permasalahan hidup bukan hanya soal asmara belaka, ada masyarakat yang tergusur disamping sana, ada kezaliman yang nyata yang terpampang di depan kita, maka solusi apa yang akan kita tawarkan sebagai seorang pemuda?
Hijrah sendiri menjadi gerbang awal bagi kaum muda untuk paham terhadap urgensi peran mereka terhadap masa depan Islam sebagai agama yang sempurna. Maka pemuda Islam sendiri perlu memanipulasi makna hijrah dari yang pasif menjadi aktif, dari yang fatalis menjadi progresif. Maka pemuda islam sendiri harus bisa menyongsong kemenangan yang nyata di depan sana. Karena hijrah yang dilakukan Rasulullah harus dimaknai sebagai sebuah strategi menuju kemenangan, sebab dengan strategi tersebut ada kemungkinan untuk memperoleh kemenangan besar kelak dikemudian hari, alih-alih dibumihanguskan sebelum sempat tumbuh. Di antara contohnya adalah keberhasilan Rasulullah membangun konsensus politik yang demokratis di Madinah dan berhasil menaklukkan Makkah, sebuah kota yang dulu ditinggalkannya. Maka hijrah yang dilakukan Nabi bukanlah sebuah jalan kekalahan, tapi strategi untuk menggapai kemenangan umat.
Pada dasarnya Hijrah adalah sebuah proses memperbaiki diri, maka perlunya komitmen yang tinggi dan yang penting adalah bagaimana kita bisa fokus terhadap niat awal kita. Maka Carilah ilmu yang tinggi, berdiskusilah untuk mencari solusi permasalahan umat, dan kuatkanlah amalan ibadah kalian. Jangan sampai kita hanya soleh sendiri lalu melupakan saudara-saudara kita, jangan sampai kita sombong terhadap ilmu yang kita punya, dan tetaplah teguh dalam menyongsong perubahan untuk umat dan agama ini.
Surakarta, 3 Oktober 2019
Sumber Foto : Google.com
Referensi :
Awwas, Irfan S. 2007. Jejak Jihad SM. Kartosuwiryo. Yogyakarta : Uswah.
https://indoprogress.com/2018/08/menyelamatkan-makna-hijrah-dari-kekalahan-menuju-kemenangan/
Referensi :
Awwas, Irfan S. 2007. Jejak Jihad SM. Kartosuwiryo. Yogyakarta : Uswah.
https://indoprogress.com/2018/08/menyelamatkan-makna-hijrah-dari-kekalahan-menuju-kemenangan/

0 Komentar