Merefleksikan Kembali #Bincang Buku


Petang kemarin, entah mengapa hati ini terasa suntuk sekali. Dunia berubah, virus corona menmbuat pembatasan interaksi di beberapa tempat sampai kampus membuat aturan yang menonaktifkan kegiatan belajar. 

Jalan-jalan terlihat lengang, tidak ada suara klakson yang bersahutan di perempatan terminal. Waktu biasa yang ku tempuh ke tempat kerja selama 30 menit, cukup 10-15 menit sudah sampai. 

Lingkungan kampus yang biasa ramai ketika sore menjelang magrib, tampak lengang. Mulai dari pusat makanan, toko baju, hingga pedagang kaki lima pinggir jalan pun sepi hilir mudik. Masjid Kampus yang menjadi tempat persinggahan anak-anak nglaju atau ibadah, pun hanya terisi satu saf yang tak utuh.

Untuk mengusir kesuntukan ini, aku putuskan untuk pergi ke kedai kopi yang disitu ada perpustakaan kecilnya, berharap dapat sedikit menenangkan hati, pikirku.

Sampai disana, aku memesan kopi dan melirik ke rak-rak buku yang dominan buku-buku lawas.  Melihat satu persatu buku yang ada, akhirnya pandanganku terhenti pada sebuah buku cetakan lama, yang buku itu sendiri tak pernah ku kira ada di tempat itu, 

“Gerakan Perlawanan Dari Masjid Kampus.”

Buku tersebut berisikan sejarah terbentuknya sebuah gerakan mahasiswa yang cukup fenomenal pada masa reformasi kala itu Namanya KAMMI.

Hampir 3 bulan yang lalu, dalam sebuah agenda dibacakanlah surat keputusan mengenai penetapan Ketua Komisariat KAMMI UNS tahun 2020. Dan aku di-huznudzoni oleh peserta sidang untuk mengemban amanah tersebut.

Menemukan buku tersebut seperti memberikan semangat baru. Karena beberapa minggu sebelumnya memang sedang malas-malasnya membaca, menulis, atau rekaman podcast yang sudah mangkrak hampir sebulan itu. Dengan membaca buku tersebut setidaknya memberikan sebuah refleksi singkat, ditengah banyaknya masalah duniawi, jangan sampai kita dihinggapi rasa malas yang berlebih, hingga akhirnya menjauh dari Allah Subhanallahu Waa Ta’ala. 
*
Buya Hamka pernah berpesan bahwa, salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas. Semoga bukan kita.

Buku Gerakan Perlawanan Dari Masjid Kampus adalah buku wajib yang harus dibaca oleh kader KAMMI. 

Dalam pengantarnya terdapat nasehat dari Sayyid Qutb, “Jadi seorang Islam ini saja telah cukup untuk mendorongmu berjuang melawan segala bentuk ketidakadilan sosial dengan suatu perjuangan yang terus dilakukan terus terang, penuh semangat, penuh dorongan. Jika kamu tidak melakukan hal ini, maka coba periksa hatimu. Mungkin hati ini tertipu oleh hakikat keimananmu. Kalau tidak begitu mengapa kau menjadi demikian teganya untuk tidak berjuang melawan pencaplokan hak?”

KAMMI ini hadir ditengah-tengah konflik menjelang reformasi pada tahun 1998. Kehadiran KAMMI sendiri cukup membuat publik tersentak, bagaimana mungkin front aksi massa yang baru saja dibentuk itu bisa menghadirkan kurang lebih dari 20.000 massa aksi. 

Banyak media-media menuding bahwa KAMMI ini merupakan sebuah rekayasa politik dari kelompok tertentu yang ditujukan untuk menggulingkan Soeharto. Padahal apabila ditarik kebelakang, gerakan KAMMI ini hadir diawali dengan gerakan-gerakan diskusi yang berada di masjid-masjid kampus, lalu bertransformasi menjadi LDK dan akhirnya membentuk aliansi FSLDK. 

Walau dideklarasikan pada Munas X FSLDK di Malang, KAMMI ini bukan secara formal lahir dari FSLDK, muncul dari keresahan-keresahan aktivis dakwah kampus yang menginkan adanya kontribusi dalam memecahkan permasalahan negara dan membutuhkan sebuah wadah. 

Pada tahun 90an, gerakan mahasiswa dapat mempertemukan antara intelektualitas dan moralitas. Dalam hal ini KAMMI masuk kedalamnya karena terepresentasikan oleh labelisasi mereka, aktivis masjid kampus atau aktivis dakwah kampus, yang mana masjid merupakan lambang moralitas, sedangkan tradisi luhur yang hendak dilestarikan oleh mahasiswa sendiri adalah menjaga kemurnian moralitas sendiri, yang bersumber dari agama. 

Bagaimana pada masa itu negara dikuasai oleh orang-orang korup yang mementingkan dirinya sendiri dan menyelewengkan amanah. Akhirnya memunculkan jurang ketidakadilan sosial antara kelas, hingga melahirkan anarkisme dan vandalisme sosial, dan tidak lain disebabkan oleh hilangnya nilai-nilai agama dalam kehidupan masyarakat sosial. 

Masjid pada waktu itu menjadi cerminan intelektualitas. Sebuah tempat yang dinamis yang didalamnya menjadi pusat koordinasi, konsolidasi gerakan dan juga sebagai tempat menempa pemahaman mengenai Islam. Ketika masjid kampus menjadi corong untuk berdialektika, maka kader-kader dakwah dibentuk dengan pemahaman yang komprehensif serta diarahkan untuk  merealisasikan amal yang konkret. 

Maka dulu sangat populer sekali tentang istilah "BUNGA DAKWAH" yang memiliki arti Buku, Ngaji dan Dakwah.

Dalam perjalananya, KAMMI bertransformasi dari front aksi mahasiswa menjadi organisasi yang professional. Maka perlu disusunya dasar-dasar organisasi yang kita kenal sekarang sebagai filosofi gerakan KAMMI. KAMMI sebagai wadah memiliki 2 ciri khas, Tajnid dan Amal. Tajnid sendiri berarti pengkaderan, bahwa KAMMI sebagai wadah kaderisasi yang akan melahirkan pemimpin-pemimpin dalam upaya mewujudkan bangsa Indonesia yang Islami. 

Selain itu KAMMI perlu untuk mengeksternalisasi nilai-nilai Islam kepada masyarakat dengan amal-amal yang konkret dan solutif. Dalam buku Identitas Politik Umat Islam karya Prof. Kuntowijoyo, dewasa sekarang aktivis dakwah kampus selain mengadakan kajian-kajian islami, perlu juga untuk hadir ke tengah masyarakat dengan bentuk amal yang mencerminkan umat muslim itu sendiri. Karena memang adanya sebuah fenomena bahwa umat islam itu sendiri jauh dengan pemahaman yang islam. Maka pentingnya aktivis dakwah kampus dalam hal ini KAMMI dapat memberikan dampak yang jelas dan dirasakan oleh masyarakat. 

KAMMI muncul pada masa reformasi mendapat sambutan hangat masyarakat yang luas, mulai dari Ormas Islam, Ulama, Buruh, LSM, dan masyarakat Umum. KAMMI melakukan pendekatan dengan reformasi damai dan terjun ke lapisan masyarakat bawah sehingga dekat dengan suara rakyat. 

Aksi-aksi turun kejalan lebih santun dan fokus terhadap tuntutan-tuntutan yang dibawa dari berbagai elemen masyarakat, sehingga dapat diterima dengan baik. Maka kunci dalam dakwah adalah adanya harmonisasi yang terbangun dari Da’I dan juga Mad’u dakwah itu sendiri.

Diawal peralihan KAMMI dari front aksi ke organisasi tercetus apa yang dinamakan asas dan prinsip gerakan KAMMI. KAMMI membawa asas Islam, yang artinya tidak mengkelompokan golongan-golongan tertentu berdasarkan fiqh, karena KAMMI memandang bahwa kita perlu untuk mengesampingkan perbedaan fiqh lalu fokus untuk menjalin ukhuwah antara umat muslim agar tidak adanya penindasan dan ketidakadilan yang terjadi di tengah masyarakat. 

Selain itu tercetus 6 Prinsip gerakan KAMMI :

1. Kemenangan Islam adalah jiwa perjuangan KAMMI.
2. Kebathilan adalah musuh abadi KAMMI.
3. Solusi Islam adalah tawaran perjuangan KAMMI.
4. Perbaikan adalah tradisi perjungan KAMMI.
5. Kepemimpinan umat adalah strategi perjuangan KAMMI.
6. Persaudaraan adalah watak muamalah KAMMI 

Dari asas dan 6 prinsip inilah yang menjadi semangat awal KAMMI dalam membangun gerakan ini, sebagai suluh dalam gelapnya kemunduran Islam, bahwa Amar Ma’ruf Nahi Munkar adalah tugas setiap muslim, dan segala permasalahan yang ada di dunia ini, Islam adalah solusinya. Dengan kepemimpinan Islam yang adil adalah cara untuk merealisasikanya dan juga yang terpenting adalah terjalinya Ukhuwah antara umat muslim agar Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam dapat terealisasi.

Hari ini gerakan KAMMI perlu untuk merefleksikan diri, tentang menjalin hubungan dengan masyarakat, bukan hanya mencari kekuasaan untuk menguasai sebuah lembaga tertentu. Kader perlu dibekali dengan analisis dan rekayasa sosial yang matang agar dalam kehidupan nyata kedepan bukan hanya berorientasi kepada kekuasaan semata, namun dapat memberikan sebuah solusi dengan nilai-nilai Islam, karena KAMMI hadir untuk itu bukan semata karena Soeharto dan reformasi belaka.

Pada dasarnya KAMMI itu memiliki ruh Islam dan kehadiranya untuk masyarakat. 

Dalam buku Perjuangan Kita yang dikarang oleh Sutan Syahrir disebutkan, ”Perjuangan kaum muda yang terpelajar haruslah membawa semangat kerakyatan. Supaya ia jangan merendah menjadi binatang berkelahi saja. Ia harus menjadi pemuda yang revolusioner, yaitu yang bercita-cita dan mempunyai kesadaran serta pengertian yang jernih tentang duduk perjuanganya untuk rakyat kita serta kemanusiaan pada umumnya.” 

Semoga kita bisa menjadi sebenar-benarnya agen dakwah Islam dan bukan menjadi intelektual salon semata.

Wallah’u ‘alam.

Surakarta, 20 Maret 2020

0 Komentar