![]() |
Masa-masa sekolah setidaknya memberikan kenangan tersendiri bagi kita. Baik dari hal yang menyenangkan ataupun menyedihkan. Semuanya memiliki porsinya masing-masing untuk memberikan sebuah pelajaran.
Bagi sebagian orang upacara hari senin adalah momen yang membosankan, karena kita harus dijemur dipagi hari dan berangkat lebih awal dari hari biasaya, namun bagi saya pribadi, upacara sendiri merupakan momen yang saya tunggu. Saya adalah orang yang aktif di Pramuka saat SMP dan Baskara (eskul paskibra) di SMA. Dua organisasi inilah yang sering mengkoordinir kegiatan upacara, dan upacara adalah ajang bagaimana kita dapat melatih kedisiplinan, serta sebagai bentuk penghormatan bagi pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan.
Momen yang paling sakral bagi saya selain pengibaran bendera adalah pembacaan Pancasila yang ditirukan oleh semua peserta. Kita seakan diajak untuk mengilhami bahwa negara yang kita pijak hari ini adalah sebuah warisan yang diteruskan bagi kita untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Berbicara mengenai Indonesia, kita menyepakati bersama bahwa Pancasila merupakan dasar negara dan didalamnya pula berisi tujuan negara ini. Tercantum dalam sila ke-5 yang berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan hal yang harus dipenuhi oleh pemerintah sebagai pelaksana Pancasila karena memiliki instrumen-instrumen untuk mewujudkanya. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah benar keadilan itu sudah terasa bagi seluruh lapisan masyarakat? atau hanya untuk segelintir orang belaka?
Akhir tahun 2019 setidaknya menjadi masa yang memanas. Dewan Rakyat kita yang tiba-tiba ngebut untuk mensahkan beberapa RUU yang bermasalah. Sontak menimbulkan protes bagi kalangan masyarakat, akademisi, dan juga mahasiswa. Aksi-aksi digelar di seluruh kota-kota besar dengan mobilitas masa yang tinggi menuntut agar RUU yang bermasalah tersebut tidak jadi disahkan. Belum selesai dengan itu, muncul kembali RUU Omnibus Law yang didalamnya terdapat cacat hukum, menghilangkan keadilan bagi pekerja, beberapa kepentingan-kepentingan untuk memuluskan investasi dan juga mengindahkan masalah lingkungan.
Diawal tahun 2020 juga negara ini sedang diuji dengan hadirnya COVID-19 yang menyebabkan lumpuhnya kegiatan kita selama ini. Baik dari sektor Pendidikan, ekonomi, sosial, dan masih banyak lain. Namun ditengah kondisi ini juga, pemerintah juga masih tetap memperlihatkan arogansinya dalam memimpin negara ini, dengan isu yang terbaru mengenai darurat sipil, yang didalamya pemerintah berlepas tangan dalam memenuhi kebutuhan masyarakatnya apabila diberlakukan karantina wilayah.
Selain itu masih banyak permasalahan yang ada dalam negeri ini, baik dari segi ekonomi, hukum, dan HAM. Bahwa secara terang-terangan negara ini dikuasai oleh kapitalis yang didalamnya berorientasi untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Bagaimana negara sebagai hakim tidak melaksanakan hukum secara adil, yang rasanya tajam ke bawah tumpul keatas. Disisi lain wakil rakyat kita yang ketika ketika adanya wabah virus ini ingin mendahulukan keluarganya untuk melaksanakan tes dan mengesampingkan rakyat kecil disana. Sungguh ketidakeadilan sedang dipertontonkan dengan nyata oleh pemimpin-pemimpin kita disana.
Berbicara keadilan, pemimpin atau wakil rakyat adalah percontohan dari penerapan keadilan tersebut. Islam sebagai agama mengajarkan bagaimana seorang pemimpin itu dapat berlaku adil untuk memenuhi hak dari masyarakatnya. Mulai dari kecukupan pangan dan yang paling penting adalah rasa aman. Agaknya pemimpin saat ini perlu untuk mentadabburi kisah-kisah para pendahulu, agar dapat melembutkan hatinya, menjadi penginga bahwa amanah yang mereka emban adalah kewajiban yang harus dilaksanakan dengan maksimal dan suatu hari nanti akan diminta pertanggungjawabnya.
Kita perlu untuk mengingat beberapa tokoh yang bagi saya pribadi sangat menunjukan perilaku pemimpin yang adil, salah satunya adalah H. Agus Salim. Siapa yang tidak tahu tentang H. Agus Salim. beliau adalah intelektual muslim yang cerdas dengan nasehat yang sering kita dengar hingga saat ini, yaitu memimpin adalah menderita. Bagaimana seorang pemimpin itu sejatinya adalah tugas mulia untuk kemashlahatan umat secara besar dan jangan sampai kita jatuh dalam jurang kesombongan.
H. Agus Salim setidaknya mengajarkan 2 hal. Seorang pemimpin setidaknya jangan pernah merasa tinggi dari rakyatnya. Tugas kita bersama untuk mencari permasalahan dari masyarakat lalu menyelesaikan dengan instrumen-instrumen yang dimiliki negara dan memastikan hal tersebut tidak terjadi kembali. Pemerintah sebagai pelindung masyarakat setidaknya memetingkan kepentingan masyarakatnya dibandingkan permasalahan ekonomi. Selain itu menjadi pemimpin haruslah hidup sederhana agar tidak melupakan rakyatnya.
Selain H. Agus Salim, pada masa Kekhalifahan Bani Umayah hidup seorang Khalifah bernama Umar bin Abdul Aziz. Beliau diangkat menjadi Khalifah di umur 33 tahun dan menjabat selama 2 tahun 5 bulan. Pada masa kepemimpinanya beliau sangat dekat dengan para ulama dalam menentukan sebuah keputusan. Dikisahkan bahwa beliau mengundang para ulama dari Madinah untuk menulis suatu kezaliman yang mereka lihat atau merampas hak orang lain.
Diriwayatkan juga pada zamanya terjadi kesejahteraan yang rata di seluruh lapisan masyarakatnya. Bagaimana beliau menempatkan tempat seadil-adilnya mulai dari bidang ekonomi, hukum dan juga senantiasa memberikan nasehat pada gubernur-gubernur dibawahnya. Mengenai hal itu, ia menulis surat kepada salah seorang gubernurnya. "Jika kamu mampu berbuat zalim kepada seseorang, ingatlah akan kemampuan Allah SWT Yang Mahatinggi kepadamu."
Dewasa sekarang berbicara mengenai keadilan adalah sebuah hal utopia, bagaimana kezaliman nampak nyata dipertontonkan pada rakyat sendiri. Padahal Islam telah menjelaskan bahwa hal yang haq dan batil perlu dipisahkan dan diberikan pembeda yang jelas. Pemimpin perlu untuk menegakkan haq dan memerangi hal yang bathil agar terciptanya negeri yang Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Allah Berfirman dalam surat An-Nissa ayat 135 yang artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”
Semoga negeri ini senantiasa diberikan keselamatan, serta semakin banyak pemimpin-pemimpin bangsa yang bersikap adil kepada masyarakatnya
Wallahu a’lam.
Sumber foto : google

0 Komentar