Refleksi Kesatuan #1



Oleh : Aba Rohmad Nurkholik
Ketua Umum KAMMI Komisariat Sholahuddin Al-Ayyubi UNS 2020

Seperti yang dikatakan oleh Pak Tjokro, Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid dan sepintar-pintar siasat. Tiga hal penting yang perlu kita miliki bagi seorang muslim. Namun, apabila saya boleh menambahkan, selebar-lebarnya hati yang ikhlas dan sabar adalah pelengkap dari tiga hal diatas.

Dewasa sekarang, bagi kita semua yang melabeli diri sebagai seorang aktivis dakwah, agaknya perlu untuk mengingat kembali kenapa kita berjuang. Banyak alasan yang ada dalam benak kita untuk bergabung dalam barisan dakwah ini. Ada yang berdasar keinginan, ikut-ikutan, atau sekadar mencari tempat untuk menemukan sebuah jawaban.  Semua tidak ada yang salah, namun kalau saya boleh katakan, tanggung jawab besar sedang menanti.

Ketika kawan-kawan memilih KAMMI sebagai wadah perjuangan, organisasi yang baru berumur 2 dekade lebih ini, nyatanya hanya sekadar rumah sempit dan juga sepi. Banyak orang yang datang lalu pergi, namun tak jarang ada beberapa orang yang tinggal, mendiskusikan mimpi-mimpi mereka, hingga tersadar waktu berlalu begitu cepat. Bagi saya hadirnya KAMMI dalam pergerakan mahasiswa, adalah bentuk ikhtiar dalam menemukan role model yang cocok dalam krisis identitas bagi mahasiswa muslim sekarang ini. Seperti dalam visinya, KAMMI adalah wadah perjuangan permanen dalam upaya mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang alami.  KAMMI hadir dengan tawaran perbaikan tatanan masyarakat dimulai dari perbaikan pemuda muslim yang terwarnai oleh Islam. Muslim Negarawan.

KAMMI bukanlah organisasi yang sebatas dicap menghegemoni badan eksekutif kampus, atau sebuah organisasi massa yang bisa mengumpulkan massa sejumlah 20.000 orang disaat usianya baru 1 bulan. Namun KAMMI lebih besar dari itu, karena cita-cita KAMMI adalah perubahan jangka panjang sebagai upaya menciptakan Islam sebagai soko guru peradaban. KAMMI juga bukan sebatas gerakan massa, namun juga gerakan intelektual yang akan kita persembahkan untuk Islam.

Seorang Marxis dari Italia yang terkenal dengan teori hegemoninya, Antonio Gramsci pernah menyampaikan, setiap orang memiliki potensi untuk menjadi intelektual sesuai dengan kecerdasan yang dia miliki serta bagaimana caranya dalam mengaplikasikanya. Namun, tidak semua orang adalah Intelektual dalam fungsi sosial. Tentu hal ini menjadi menarik ketika kita berkecimpung dalam ranah intelektual dan mempunyai instrumen dalam aplikasinya.

Perlu digaris bawahi, mengenai kehadiran intelektual dalam fungsi sosial merupakan sebuah proses bagaimana kemampuan berpikir dapat menemukan solusi dari permasalahan sosial. Bukan menjadi faktor utama yang menggerus nilai-nilai sosial itu. Seperti yang kita tahu, Omnibus Law, konflik agraria, kapitalisme, dan permasalahan lainya merupakan produk dari intelektual yang abai dengan nilai-nilai sosial. Hal ini merupakan kebathilan yang nyata terpampang dan bukan alasan untuk kita berdiam diri saja.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu adanya sebuah paradigma keilmuan yang memandang bahwa hal-hal bathil perlu dilawan dan Islam adalah solusi dari permasalahan. Seperti yang tercantum dalam paradigma Gerakan KAMMI, Dakwah Tauhid. Bahwa Islam adalah gerakan pembebasan terhadap bentuk penghambaan terhadap materi, nalar, dan sesama manusia. Gerakan ini adalah perjuangan untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, dan Allah adalah sebaik-baiknya tempat kembali.

KAMMI sebagai gerakan mahasiswa yang merupakan perwujudan kaum intelektual perlu untuk merangkul gerakan-gerakan Islam lain, baik dari ormeks kampus, atau elemen masyarakat lainya. Ketika saya mengikuti daurah-daurah KAMMI yang melibatkan kader di berbagai daerah, bahasan yang paling dominan dibicarakan adalah bagaimana KAMMI dapat memenangi sebuah kontestasi elektoral kampus, baik cerita-cerita di masing-masing tempat, hubungan dengan ormeks lain atau sekadar cerita baku hantam gara-gara hasil pemilu. Bagi saya pribadi kurang menemukan bahasan mengenai startegi dakwah dalam ranah amal masyarakat, atau rencana eskalasi isu yang digarap oleh pusat. Mentok-mentok masalah kaderisasi yang senantiasa berulang.

KAMMI sendiri menurut pribadi penulis mulai kekurangan narasi, baik kaderisasi dan amal. Permasalahhan yang fundamental sendiri adalah orientasi gerakan yang dibangun komsat, sekadar memenangkan politik kampus kah? atau bagaimana memaksimalkan ideologisasi bagi kader-kadernya. Dalam gerakan mahasiswa sendiri, agaknya KAMMI mulai kekurangan Bargaining Position di mata pemerintah, gerakan lain atau  masyarakat itu sendiri.

Gus Dur dalam sebuah essaynya tentang “Intelektual di tengah Ekslusivme” setidaknya menggambarkan permasalahan yang dihadapi oleh kaum intelektual. Gus Dur mengatakan gerakan intelektual apabila membawa “bendera” masing-masing akan menimbulkan jurang perbedaan dan justru akan membuat kehadirannya menjadi stagnan. Perlunya KAMMI mempertemukan narasi dan tujuan yang sama tanpa melebur untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan di masyarakat, tentu dengan strategi dan narasi yang kuat.

Kaum intelektual perlu untuk mengaplikasikan ilmunya kepada sekitarnya. Seperti umat Islam yang menurut Kuntowijoyo dalam buku Identitas Politik Umat Islam perlu untuk eksternalisasi nilai-nilai Islam kepada masyarakat luar bukan hanya sebatas ritual semata. Hakikatnya ilmu merupakan kebermanfaatan, bukan untuk membuat orang merasa jumawa akan statusnya dan mengganggap orang lain lebih rendah. Maka akan memunculkan fenomena “Menara Gading Intelektual” dan juga “Intelektual Salon”. Ilmu hanya sebatas pajangan tanpa diamalkan.

Maka, menjadi tugas KAMMI untuk menjadi salah satu sendi dalam memikul perjuangan berat ini. Maka saya katakan diatas, bahwa jalan yang akan kita tempuh akan terjal, berliku, dan tentunya, orang-orangnya sedikit. KAMMI tak akan memberikan materi, apalagi memberikan kepopuleran. Karena jalan yang dilalui KAMMI adalah sunyi.

Ditengah wabah yang sedang berlangsung ini, agaknya kita perlu untuk mentadabburi kisah Nabi Ayub. Ketika sebelum diberi penyakit, Beliau adalah orang yang cerdas, dan senantiasa bertakwa kepada Allah. Namun ketika diberikan cobaan yang berat, beliau tetap berusaha kuat dalam menjalani cobaan dan sabar. Cobaan yang kita alami sekarang ini selain sebagai momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah, adalah ujian bagaimana kita dituntut untuk berpikir dalam keterbatasan ini dapat berkontribusi dalam kebermanfaatan.

Terakhir, hadirkanlah KAMMI dalam doa-doa kalian agar keberkahan akan senantiasa mengiringi langkah kita bersama . Tetaplah bertahan dan bersiap siagalah.

Barakallah!
#RumahKita
#BangunBersama
#KitaKesatuan

*) Ditulis dalam rangka memperingati Milad KAMMI ke-22 Tahun

0 Komentar