Akhir tahun 2019 kita dihadirkan dengan berita munculnya virus corona di Kota Wuhan. Namun, kita tak pernah bisa memprediksi bahwa efeknya akan seperti ini hanya dalam beberapa bulan. Bagaimana kita dihadapkan oleh kondisi yang sulit, baik dari segi ekonomi dan juga sosial.
Pemerintah memberikan himbauan untuk menjaga jarak agar penyebaran virus ini tidak meluas. Mulai dari seruan #DiRumahAja, Phyisical Distancing, dan PSBB. Hal itu menyebabkan kegiatan interaksi satu sama lain mulai berkurang. Kebijakan tersebut disusul dengan fatwa yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan bahwa setiap orang wajib melakukan ikhtiar meningkatkan kesehatan dan menjauhi setiap hal yang diperbaiki terpapar, tindakan yang diperlukan kepanikan dan masyarakat, serta menghimbau untuk tidak melakukan sholat wajib berjama'ah, tarawih, ied, atau jum'at jika dapat media transfer Virus Corona.
Masyakarat dihadapakan dengan kondisi yang tidak seperti biasanya, bahwa interaksi yang biasa mereka lakukan harus tergantikan dengan daring. Mulai dari kegiatan belajar mengajar, mendengarkan kajian, dan silaturrahmi. Hingga pada suatu titik kita sama-sama menyadari bahwa pertemuan secara langsung, sejatinya tidak akan tergantikan.
Ditengah ketidakpastian kondisi saat ini, beberapa hal yang paling berdampak di dekat penulis sendiri adalah menurunya semangat serta macetnya kaderisasi organisasi, terutama di kalangan aktivis dakwah. Hal ini merupakan sebuah keniscayaan, bahwa rencana-rencana yang sudah disusun, terpaksa harus ditunda sejenak. Kita dituntut untuk survive memikirkan strategi yang pas agar organisasi tetap berjalan. Di sisi lain kurangnya intensitas pertemuan secara langsung mengakibatkan turunnya semangat diantara para anggota (futur) hingga menyebabkan renggangnya barisan dakwah.
Saya jadi teringat sebuah buku yang ditulis oleh (Alm) Pak Kuntowijoyo, yang berjudul “Muslim Tanpa Masjid”. Bagaimana dalam buku tersebut dijelaskan sebuah fenomena munculnya generasi muslim yang dirinya tidak merasa dirinya muslim. Mereka lahir di kultur perkotaan yang kompleks dan mendapatkan pengetahuan agama yang terbatas. Mereka yang disebut Muslim Tanpa Masjid adalah yang mendapatkan pengetahuan agama dari anonim, kaset, dan majalah. Mereka tidak menjadikan masjid sebagai tempat utama mencari ilmu dan terkadang melakukan penolakan terhadap otoritas keagamaan. Hingga akhirnya mereka mengalami kecatatan keilmuan dalam beragama dan krisis identitas. Hari ini, kita sama pula dihadapkan dengan kondisi muslim tanpa masjid versi baru. Bagaimana sebagian besar kegiatan ilmu dan dilakukan dengan jarak jauh. Selain itu pandemi ini bertepatan dengan bulan ramadan, masa dimana semangat keislaman akan naik dan orang-orang akan berlomba-lomba berdatangan ke masjid.
Aktivis dakwah di tengah pandemi ini, agaknya perlu untuk mentaddaburi surat An-Nahl ayat 125 yang artinya :
“Serulah manusia di jalan Tuhanmu dengan hikmah dan ikuti yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih tahu siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih tahu siapa yang mendapat petunjuk. ”
Apa yang terkandung dalam ayat tersebut adalah bagaimana kita harus dapat melihat hikmah dalam keadaan serta senantiasa menyerukan hal-hal yang baik. Hikmah adalah dengan Al-Qur'an dan perkataan shahih yang memiliki dalil jelas terhadap kebenaran. Maka seorang aktivis dakwah dituntut memiliki ilmu, ketajaman berpikir, dan kecerdasan di setiap amalnya, yang dia libatkan dalam setiap situasi dan peluang. Dakwahnya sendiri tak lekang oleh ruang dan waktu. Maka kita perlu untuk sekreatif mungkin melihat keadaan dengan memanfaatkan peluang, dengan teknologi misalnya.
Dalam konteks renggangnya barisan dakwah, kita perlu menyadari, berapa banyak umat muslim yang ada di dunia ini terpisah jaraknya. Namun mereka masih memiliki keteguhan hati untuk senantiasa berdakwah menyebarkan kebaikan di seluruh penjuru bumi. Selain itu tantangan yang dihadapi diluar sana pun lebih berat, baik dari siksaan secara fisik atau bahkan dentuman bom yang sewaktu-waktu dapat merenggut nyawanya. Cukuplah dengan tauhid, percaya dengan apa yang sudah digariskan oleh Allah SWT yang menjadikan hati kita kuat dan merasa bahwa kita tak sendirian berada di jalan dakwah ini.
Perlu diketahui tantangan dakwah semakin membesar. Bagaimana Ghazwul Fikr mulai massif dan menyerang pemikiran-pemikiran umat muslim secara luas. Disisi lain kita masih tiarap karena takut dalam pertarungan opini, disebabkan kurang dalam memahami dasar keilmuan agama, dan kurang memahami realitas masyarakat yang ada. Ini adalah realitas yang nyata karena sebagian besar dari kita masih sibuk dengan diri sendiri, dan kurang memahami keilmuan agama kita sendiri.
Pada masa-masa sulit saat ini, interaksi kita mulai berkurang namun waktu yang kita miliki semakin banyak, maka aktivis dakwah bukanlah orang yang menyia-nyiakan waktunya. Kita bisa kembali untuk mentadabburi Al-Quran untuk menemukan solusi dalam permasalahan hidup, sembari menghafalkanya kembali dan berharap berkah dari Allah.
Ustaz Adi Hidayat pernah mengatakan dalam sebuah kajianya bahwa untuk meningkatkan kecerdasan dalam mencari ilmu dapat dimulai dengan menghafal Al-Quran. Beliau mencotohkan dengan Ulama-ulama terdahulu selain ahli dalam keilmuan juga seorang penghafal Al-Quran.
Selanjutnya, kita bisa membaca buku untuk menambah keilmuan kita. Mulai dari buku tafsir, novel, filsafat dan lain-lain. Kita coba untuk memahami apa yang ada di dalam buku tersebut sehingga mendapatkan perspektif baru dalam memandang sebuah realitas. Buku sendiri selain menajamkan pikiran juga dapat memperhalus hati. Dalam tahapan memahami, perlu untuk kita menulis apa yang sudah kita baca, selain melatih daya ingat juga membagikan ilmu kita kepada orang lain. Dari hal sekecil itu dapatlah kita menumbuhkan semangat lagi untuk berdakwah.
Sembari kita menambah ilmu jangan lupakan untuk kita menjalin silaturrahmi dengan saudara-saudara kita, dengan keterbatasan jarak kita bisa menggunakan teknologi yang ada. Ustaz Salim A. Fillah pernah mengatakan bahwa aspek yang paling penting dalam dakwah sendiri adalah Ukhuwah. Dengan silaturrahmi harapanya dapat mempererat ukhuwah diantara kita sehingga dapat memantapkan barisan dakwah nanti. Apabila dakwah dibangun dengan pemahaman intelektual yang baik serta dibarengi dengan ukhuwah, maka dakwah Islam akan semakin kuat.
Selanjutnya, kita perlu untuk membangun kembali peradaban Islam, dan tentunya hal itu dimulai dari Masjid. Pada sebuah diskusi yang diadakan oleh youlead club Indonesia, membahas mengenai New Normal kehidupan organisasi kampus pasca Covid-19. Ustaz Andika memaparkan salah satu solusi dalam menghadapi tantangan yang besar ini adalah kembali menghidupkan Masjid Kampus sebagai laboratorium intelektual yang bernafasakan Islam. Masjid yang menjadi pusat peradaban sejak dahulu kala telah menjadi tulang punggung dalam menyelesaikan permasalahan masyarakat dan perlu digalakan kembali. Mengapa masjid kampus? Karena di dalam kampus itulah para intelektual berkumpul. Mengambil contoh dari Dr. Ir. Syarif Hidayat dari Masjid Salman ITB yang menciptakan "Vent.i" sebagai solusi bagi pernafasan, Masjid Salman ITB pada kurun waktu 1970 an hingga sekarang telah menjadi pelopor bahwa masjid kampus merupakan tempat untuk menjawab permasalahan umat.
Maka sebagai seorang aktivis dakwah, jangan sampai kita menjadi generasi Muslim Tanpa Masjid jilid 2 yang mengalami krisis identitas dalam memahami keislaman. Pasca pandemi ini dengan kita sudah menyiapkan diri dalam mengkaji ilmu-ilmu dari Al-Quran dan Sunnah, Kita galakan kembali diskusi-diskusi intelektual di dalam masjid kampus dan menjadikanya laboratorium peradaban. Ini merupakan kunci kebangkitan peradaban yang dibangun kepahaman, diikat oleh ukhuwah, dan masjid menjadi markasnya. Dan yang paling penting, perlu untuk meneguhkan hati ini kembali bahwa umat sedang menunggu karya kita. Luruskan niat dan rapatkan barisan. Keadaan saat ini bukanlah hambatan bagi untuk berhenti berkontribusi. Karena tugas kita adalah memberikan manfaat yang luas serta mendapatkan Ridho dari-Nya.
Wallahu a'lam bishawab.
Pemerintah memberikan himbauan untuk menjaga jarak agar penyebaran virus ini tidak meluas. Mulai dari seruan #DiRumahAja, Phyisical Distancing, dan PSBB. Hal itu menyebabkan kegiatan interaksi satu sama lain mulai berkurang. Kebijakan tersebut disusul dengan fatwa yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan bahwa setiap orang wajib melakukan ikhtiar meningkatkan kesehatan dan menjauhi setiap hal yang diperbaiki terpapar, tindakan yang diperlukan kepanikan dan masyarakat, serta menghimbau untuk tidak melakukan sholat wajib berjama'ah, tarawih, ied, atau jum'at jika dapat media transfer Virus Corona.
Masyakarat dihadapakan dengan kondisi yang tidak seperti biasanya, bahwa interaksi yang biasa mereka lakukan harus tergantikan dengan daring. Mulai dari kegiatan belajar mengajar, mendengarkan kajian, dan silaturrahmi. Hingga pada suatu titik kita sama-sama menyadari bahwa pertemuan secara langsung, sejatinya tidak akan tergantikan.
Ditengah ketidakpastian kondisi saat ini, beberapa hal yang paling berdampak di dekat penulis sendiri adalah menurunya semangat serta macetnya kaderisasi organisasi, terutama di kalangan aktivis dakwah. Hal ini merupakan sebuah keniscayaan, bahwa rencana-rencana yang sudah disusun, terpaksa harus ditunda sejenak. Kita dituntut untuk survive memikirkan strategi yang pas agar organisasi tetap berjalan. Di sisi lain kurangnya intensitas pertemuan secara langsung mengakibatkan turunnya semangat diantara para anggota (futur) hingga menyebabkan renggangnya barisan dakwah.
Saya jadi teringat sebuah buku yang ditulis oleh (Alm) Pak Kuntowijoyo, yang berjudul “Muslim Tanpa Masjid”. Bagaimana dalam buku tersebut dijelaskan sebuah fenomena munculnya generasi muslim yang dirinya tidak merasa dirinya muslim. Mereka lahir di kultur perkotaan yang kompleks dan mendapatkan pengetahuan agama yang terbatas. Mereka yang disebut Muslim Tanpa Masjid adalah yang mendapatkan pengetahuan agama dari anonim, kaset, dan majalah. Mereka tidak menjadikan masjid sebagai tempat utama mencari ilmu dan terkadang melakukan penolakan terhadap otoritas keagamaan. Hingga akhirnya mereka mengalami kecatatan keilmuan dalam beragama dan krisis identitas. Hari ini, kita sama pula dihadapkan dengan kondisi muslim tanpa masjid versi baru. Bagaimana sebagian besar kegiatan ilmu dan dilakukan dengan jarak jauh. Selain itu pandemi ini bertepatan dengan bulan ramadan, masa dimana semangat keislaman akan naik dan orang-orang akan berlomba-lomba berdatangan ke masjid.
Aktivis dakwah di tengah pandemi ini, agaknya perlu untuk mentaddaburi surat An-Nahl ayat 125 yang artinya :
“Serulah manusia di jalan Tuhanmu dengan hikmah dan ikuti yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih tahu siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih tahu siapa yang mendapat petunjuk. ”
Apa yang terkandung dalam ayat tersebut adalah bagaimana kita harus dapat melihat hikmah dalam keadaan serta senantiasa menyerukan hal-hal yang baik. Hikmah adalah dengan Al-Qur'an dan perkataan shahih yang memiliki dalil jelas terhadap kebenaran. Maka seorang aktivis dakwah dituntut memiliki ilmu, ketajaman berpikir, dan kecerdasan di setiap amalnya, yang dia libatkan dalam setiap situasi dan peluang. Dakwahnya sendiri tak lekang oleh ruang dan waktu. Maka kita perlu untuk sekreatif mungkin melihat keadaan dengan memanfaatkan peluang, dengan teknologi misalnya.
Dalam konteks renggangnya barisan dakwah, kita perlu menyadari, berapa banyak umat muslim yang ada di dunia ini terpisah jaraknya. Namun mereka masih memiliki keteguhan hati untuk senantiasa berdakwah menyebarkan kebaikan di seluruh penjuru bumi. Selain itu tantangan yang dihadapi diluar sana pun lebih berat, baik dari siksaan secara fisik atau bahkan dentuman bom yang sewaktu-waktu dapat merenggut nyawanya. Cukuplah dengan tauhid, percaya dengan apa yang sudah digariskan oleh Allah SWT yang menjadikan hati kita kuat dan merasa bahwa kita tak sendirian berada di jalan dakwah ini.
Perlu diketahui tantangan dakwah semakin membesar. Bagaimana Ghazwul Fikr mulai massif dan menyerang pemikiran-pemikiran umat muslim secara luas. Disisi lain kita masih tiarap karena takut dalam pertarungan opini, disebabkan kurang dalam memahami dasar keilmuan agama, dan kurang memahami realitas masyarakat yang ada. Ini adalah realitas yang nyata karena sebagian besar dari kita masih sibuk dengan diri sendiri, dan kurang memahami keilmuan agama kita sendiri.
Pada masa-masa sulit saat ini, interaksi kita mulai berkurang namun waktu yang kita miliki semakin banyak, maka aktivis dakwah bukanlah orang yang menyia-nyiakan waktunya. Kita bisa kembali untuk mentadabburi Al-Quran untuk menemukan solusi dalam permasalahan hidup, sembari menghafalkanya kembali dan berharap berkah dari Allah.
Ustaz Adi Hidayat pernah mengatakan dalam sebuah kajianya bahwa untuk meningkatkan kecerdasan dalam mencari ilmu dapat dimulai dengan menghafal Al-Quran. Beliau mencotohkan dengan Ulama-ulama terdahulu selain ahli dalam keilmuan juga seorang penghafal Al-Quran.
Selanjutnya, kita bisa membaca buku untuk menambah keilmuan kita. Mulai dari buku tafsir, novel, filsafat dan lain-lain. Kita coba untuk memahami apa yang ada di dalam buku tersebut sehingga mendapatkan perspektif baru dalam memandang sebuah realitas. Buku sendiri selain menajamkan pikiran juga dapat memperhalus hati. Dalam tahapan memahami, perlu untuk kita menulis apa yang sudah kita baca, selain melatih daya ingat juga membagikan ilmu kita kepada orang lain. Dari hal sekecil itu dapatlah kita menumbuhkan semangat lagi untuk berdakwah.
Sembari kita menambah ilmu jangan lupakan untuk kita menjalin silaturrahmi dengan saudara-saudara kita, dengan keterbatasan jarak kita bisa menggunakan teknologi yang ada. Ustaz Salim A. Fillah pernah mengatakan bahwa aspek yang paling penting dalam dakwah sendiri adalah Ukhuwah. Dengan silaturrahmi harapanya dapat mempererat ukhuwah diantara kita sehingga dapat memantapkan barisan dakwah nanti. Apabila dakwah dibangun dengan pemahaman intelektual yang baik serta dibarengi dengan ukhuwah, maka dakwah Islam akan semakin kuat.
Selanjutnya, kita perlu untuk membangun kembali peradaban Islam, dan tentunya hal itu dimulai dari Masjid. Pada sebuah diskusi yang diadakan oleh youlead club Indonesia, membahas mengenai New Normal kehidupan organisasi kampus pasca Covid-19. Ustaz Andika memaparkan salah satu solusi dalam menghadapi tantangan yang besar ini adalah kembali menghidupkan Masjid Kampus sebagai laboratorium intelektual yang bernafasakan Islam. Masjid yang menjadi pusat peradaban sejak dahulu kala telah menjadi tulang punggung dalam menyelesaikan permasalahan masyarakat dan perlu digalakan kembali. Mengapa masjid kampus? Karena di dalam kampus itulah para intelektual berkumpul. Mengambil contoh dari Dr. Ir. Syarif Hidayat dari Masjid Salman ITB yang menciptakan "Vent.i" sebagai solusi bagi pernafasan, Masjid Salman ITB pada kurun waktu 1970 an hingga sekarang telah menjadi pelopor bahwa masjid kampus merupakan tempat untuk menjawab permasalahan umat.
Maka sebagai seorang aktivis dakwah, jangan sampai kita menjadi generasi Muslim Tanpa Masjid jilid 2 yang mengalami krisis identitas dalam memahami keislaman. Pasca pandemi ini dengan kita sudah menyiapkan diri dalam mengkaji ilmu-ilmu dari Al-Quran dan Sunnah, Kita galakan kembali diskusi-diskusi intelektual di dalam masjid kampus dan menjadikanya laboratorium peradaban. Ini merupakan kunci kebangkitan peradaban yang dibangun kepahaman, diikat oleh ukhuwah, dan masjid menjadi markasnya. Dan yang paling penting, perlu untuk meneguhkan hati ini kembali bahwa umat sedang menunggu karya kita. Luruskan niat dan rapatkan barisan. Keadaan saat ini bukanlah hambatan bagi untuk berhenti berkontribusi. Karena tugas kita adalah memberikan manfaat yang luas serta mendapatkan Ridho dari-Nya.
Wallahu a'lam bishawab.
Sumber Foto :
1. Adzika .net
2. PPT materi diskusi Youlead Club Indonesia "New Normal Organisasi pasca Pandemi Covid - 19"

0 Komentar