Reformasi Dakwah Kampus #BincangBuku



Buku Reformasi Dakwah Kampus sendiri merupakan kumpulan essai karangan Ary Maulana yang mengulik tentang kegiatan dakwah kampus serta tantangan yang dihadapinya pada zaman modern. Dengan berlatar tempat Universitas Indonesia, penulis mencoba memapakarkan bagaimana aktivis dan lembaga dakwah harus mampu bertransformasi di zaman modern dengan tetap memperhatikan aspek fundamental, serta mengembangkan inovasi-inovasi yang bertujuan untuk memberikan kontribusi bagi umat.

Buku ini dibagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama sendiri mengambil sub-judul membongkar stigma konvensional lembaga dakwah. Penulis ingin menjelaskan bahwa dalam lembaga dakwah perlu untuk memperhatikan data sebagai penunjang dakwah itu sendiri. Dengan kecakapan kita dalam mengolah data, harapanya ADK dapat membaca dan memahami dinamika objek dakwah sehingga dapat menetapkan strategi yang sesuai. Selain itu dalam bab ini juga ditekankan akan pentingnya kita untuk bergerak secara inklusif yang direpresentasikan oleh Ketua lembaga dakwah dalam memberikan keteladanan serta kader dakwah yang ditempatkan di himpunan mahasiswa atau organisasi kemahasiswaan lain yang harapanya dapat memberikan kebermanfaatan yang luas dan menghapus stigma dakwah kampus yang ekslusif dan tidak professional.

Pada bagian kedua sendiri menjelaskan tentang proses kaderisasi. Dalam perjalanan dakwah kaderisasi diibaratkan dapur yang akan memberikan asupan bagi kader dakwah itu sendiri. Dakwah kampus yang dibangun dari dakwah fakultas perlu adanya sinergi dalam pemberian materi dan muatan dakwah, agar nilai yang dibangun tidak berbenturan dalam pemahaman. Dalam studi kasus, menghadapi rumpun Saintek dan Soshum pasti memiliki pendekatan yang berbeda. Maka perlunya komunikasi yang baik antar unsur fakultas dalam hal ini LDF agar terbentuknya kesinambungan. 

Selain itu penulis juga menyoroti pentingnya kaderisasi dalam bidang kajian strategis dan juga media humas. Dalam menghadapi era modern lembaga dakwah agar tak dicap apatis perlu dibekali dengan kemampuan analisis isu yang matang, selanjutanya bidang media humas yang akan membahasakannya kepada publik dengan visualisasi yang baik pula. Agaknya LDK lebih fokus bagaimana mengkader internal namun lupa untuk membekali kader agar bisa berpikir kritis dan menarasikan ke khalayak umum. Karena kita perlu menyadari objek dakwah kita merupakan kaum intelektual yang memiliki kecerdasan dan pola pikir pragmatis dan kritis (sebagian). Dan diakhir bagian ini, momok kaderisasi terutama bagi aktivis dakwah adalah Virus Merah Jambu. Hal ini perlu untuk diberikan pemahaman yang lebih dalam lingkaran masing-masing, agar tidak menyebabkan futur bagi aktivis dakwah yang akan berimplikasi pada amanahnya dan bagi khalayak umum tidak ada generalisasi yang distigmakan bahwa aktivis dakwah orientasinya adalah nikah muda saja.

Pada bagian ketiga ini dijelaskan mengenai bagaimana kiat-kiat kita dalam menguatkan barisan dakwah. Salah satunya adalah membangun jaringan yang luas dari beberapa pihak. Dakwah kampus perlu untuk berkolaborasi dengan tujuan untuk memperlebar sayap dakwah yang dapat menggaet ceruk-ceruk dakwah baru serta menguatkan standing point yang selama ini mungkin tercitrakan eksklusif. Contohnya adalah bagaimana LDK dapat bekerja sama dengan UKM kerohanian lain dalam memperjuangkan nilai-nilai kerohanian di kegiatan kampus. Selain itu juga dapat bekerja sama dengan beberapa lembaga pers yang disitu kita bisa mendapatkan ilmu baru dalam bidang jurnalistik dan pengelolaan isu.

Bagian terakhir sendiri membahas mengenai inovasi dan kontribusi dakwah. Dengan proses yang sudah dilewati mulai dari mencari permasalahan internal, selanjutanya fokus kaderisasi, dan meperkuat jaringan.  Lembaga dakwah telah memiliki akar yang kuat, tinggal bagaimana mengemasnya sesuai dengan zaman. Dari pembagian segmentasi dakwah berdasarkan data, perlu diteruskan gerakan massif dan kreatif.  Mulai dari rebranding media secara kekinian, menggalakan kegiatan Muslimah yang lebih bersahabat, membangun dan memadukan keilmuan core compentence yang kompeten diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas lagi.

Bagi saya, buku ini cocok untuk dibaca bagi kalangan aktivis dakwah kampus saat ini. Karena di dalamnya menggunakan bahasa yang ringan dan penjelasan yang runut.   Dalam bab per bab kita dibentuk konstruksi berpikir dalam proses perencanaan dakwah, tahapan-tahapanya, serta permasalahan kontemporer mengenai dakwah itu sendiri.  Buku ini mengajak kita untuk keluar dari zona nyaman dakwah yang diharapkan dapat mengefektifkan gerakan dakwah itu sendiri ditengah zaman yang modern ini.

Sumber Gambar : Twitter ACT

0 Komentar