Hal itu, biasa kita sebut dengan “Dakwah.”
Pada masa ke masa gerakan ini selalu menghadapi tantanganya. Dimulai dengan kisah dakwah Nabi Nuh dengan Kaum dan juga keluarganya, Nabi Yusuf yang dibuang atas konspirasi saudaranya, Nabi Musa dengan kecerewetan Kaum Yahudi, Nabi Yunus yang menjauh dari kaumnya lalu Allah memberi peringatan dengan ditelan paus, dan Nabi Muhammad yang harus berhadapan dengan oligarki negeri Mekah pada waktu itu.
Tantangan itu beragam datangnya, baik dari luar atau dari dalam diri sendiri. Namun, yang pasti pertolongan itu selalu hadir dari arah yang sama, keuatan yang sama, Sang Maha Pencipta, Sang Maha Pembolak-balik Hati, Allah Azza Waa Jalla.
***
Perencanan dan progam yang terlaksana agaknya memberikan senyum merekah bagi sebagian kita, bagaimana laporan yang dilakukan atas nama dakwah ini diterima oleh peserta forum.
Namun disisi lain ada yang terlarut dalam diam, laporanya ditolak mentah-mentah, dikritik habis-habisan. Sampai waktu 24 jam belum cukup untuk mengkritisi kinerja dakwah tersebut.
Setelah itu, akan hadir proses pemilihan nahkoda baru, dilihat dari visi & misi yang segar, mereka menyampaikan gagasan. Dilanjut dengan syuro penentuan, Akhirnya terpilihnya si Fulan.
Siklus berlanjut, kepengurusan baru terlantik. Rapat kerja dilaksanakan, ide dan gasasan saling bersahutan. Namun, ujian datang ditengah jalan, mereka berhenti sejenak. Mereka bingung.
Mereka dihadapkan pada salah satu ujian-Nya. Masa dimana rencana-rencana dakwah berpotensi gagal terlaksana karena adanya pembatasan ruang bertemu. Bagaimana ghiroh yang telah berapi-api harus padam dengan kondisi yang serba tak menentu. Akhirnya futur melanda, komunikasi sekadarnya, eksekusi sewajarnya.
Namun, saya masih percaya bahwa setiap peristiwa pasti ada hikmah dibaliknya. Bukankah setiap generasi pasti akan diuji? Dan dari setiap ujian itu, pasti akan lahir generasi-generasi yang kuat dalam menghadapi tantangan?
Kita adalah insan yang diberi kecerdasan. Seperti para leluhur kita terdahulu, mereka pintar bersiasat, merencanakan, melihat peluang, dan lihai dalam berkomunikasi dengan segala keterbatasan. Namun, kecerdasan tanpa keimanan adalah hampa, yang berpotensi menimbulkan kesombongan dan akhirnya menghadirkan kesia-sian.
Agaknya kita perlu untuk merefleksikan kembali. Sebagai seorang aktivis dakwah, apa yang hendak kita kejar? Output apa yang ingin kita inginkan dengan daurah yang kita buat? Strategi apa yang akan kita gunakan? Bagaimana kondisi hati kita dalam menghadapi ujian? Bukankah banyak saudara-saudara kita yang berguguran ditengah jalan.
Imam An-Nawawi, dalam Kitab Riyadus Sholihin menempatkan niat sebagai fondasi yang utama dalam beribadah kepada Allah, begitu pula dengan dakwah.
Dan selanjutnya dalam berdakwah, teman-teman mengikuti sebuah proses tarbiyah, pembentukan diri, perlu untuk meluruskan niat dan juga memahami tujuan. Dan salah satu tujuanya adalah untuk Taskiyatun Nafs (Penyucian Hati)
**
Dalam sebuah forum, Salah satu Ustadz pernah menyampaikan, dakwah ini akan senantiasa menyeleksi orang-orang kuat, dan salah satu ciri orang tersebut hatinya bersih akan niat yang menginginkan duniawi.
Dalam Quran Surat Fushilat ayat 33 yang artinya : “Siapakah yang lebih baik dari orang yang menyeret kepada Allah, melakukan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"
Bagaimana orang yang kuat adalah orang yang berserah diri, yang bermakna menghilangkan niat yang buruk, bersih hatinya dan semata-mata berdakwah bertujuan untuk mencari ridho Allah.
Maka dalam berdakwah, Kebersihan hati merupakan aspek yang lebih penting daripada metode itu sendiri. Pembinaan diri kita, yang akan menjadi cerminan utama dilihat oleh orang lain. Akhlakul Karimah. Dan kebersihan hati itu sendirilah yang akan membuat kinerja-kinerja dakwah kita menjadi ampuh, karena apa yang kita lakukan, akan senantiasa dilindungi oleh Allah SWT.
Barangkali, dengan masa seperti ini, adalah ujian yang harus kita hadapi dan waktunya untuk membersihkan hati masing-masing. Waktu luang yang banyak, isilah dengan tilawah quran, memperbaiki bacaan quran, menyelesaikan hafalan. Yang kelak akan membuat lidah kita terbiasa untuk berbicara hal yang baik, dan ketika berdakwah kita tak sekadar “ngamen” semata.
Selanjutnya adalah kembali mengingatkan saudara-saudara kita terdekat. Tanyakan kabar mereka, Ingatkanlah untuk mengisi Mutaba’ah amal yaumi, bukan untuk riya atau mengganggu privasi, namun sebagai tolok ukur untuk saling mengingatkan dalam keaadan futur. Gunakanlah fitur whatsapp call di sepertiga malam untuk menghubungi mereka, bangunkanlah, ajak mereka untuk menghidupkan malam. Jangan lupa sebut nama mereka dalam doamu.
Hubungilah mereka, tegurlah kalau terlambat hadir syuro online. Bacalah bismillah sebelum memulai agenda, dilanjutkan tilawah beserta terjemahanya, dan diakhiri doa rabithah, agar saling mengikat walau tersekat jarak.
Gerakan ini punya gagasan peradaban. Yang bertujuan untuk menghadirkan Islam sebagai soko guru peradaban, Islam yang memperhatikan aspek kehidupan dengan Taskiyatun Nafs sebagai tolok ukur awal. Memandang dengan jujur, tanpa niatan kompromi, atau niat menyerah karena kebatilan itu lebih kaya, lebih kuat, dan lebih meyakinkan.
Maka, mari menjaga hati, mengetuk pintu langit, ngalap berkah, ikhtiarkan semampunya, sisanya serahkan kepada Allah. Itu saja. []
Sumber foto : https://www.astrotourism.com/news/look-stars-12-useful-tips-looking-sky/

0 Komentar