Belajar dari Partai Masyumi

Di era reformasi sekarang, banyak sekali partai-partai yang membawa narasi Islam atau religius sebagai dasar gerak politiknya. Ada yang menjadikannya sebagai dasar AD-ART, simbol partai, atau bahkan gimmick politik belaka. Agaknya kita perlu mundur ke belakang ke era kemerdekaan, ada satu partai yang agaknya perlu menjadi refleksi untuk generasi saat ini dalam politik Islam, yaitu Partai Masyumi. Bagi saya pribadi, Partai Masyumi setidaknya memberikan pelajaran bagi kita bahwa politik islam haruslah dibangun visi keislaman yang kuat, kesabaran dalam dakwah dan keteladanan dari para penggeraknya.

Partai Masyumi sendiri adalah partai Islam yang memiliki sejarah gemilang era multipartai dalam pemilu 1955. Pemilu 1955 sendiri dikenal sebagai pemilu pertama dalam sejarah bangsa ini dan menempatkan partai Masyumi menjadi partai 5 besar meskipun pada waktu itu baru berumur 5 tahun. Partai ini didirikan oleh Pak Natsir bersama kawan-kawanya, dengan mendapat dukungan yang luas dari elemen masyarakat terutama para alim ulama, serta memiliki platform perjuangan yang jelas dan tegas dalam memperjuangkan Islam.

Dalam perjalananya, Partai Masyumi memiliki berbagai lika-likunya, mulai dari perpecahan ditubuh internal, dituduh radikal karena menyulut pemberontakan, hingga pada 15 tahun perjalananya partai ini dibubarkan karena dianggap tidak sejalan oleh pemerintah kala itu. Namun, dengan prahara seperti itu, para aktivis Partai Masyumi teguh menjadikan identitas Islam sebagai ruh perjuangan, namun bukan berarti mereka melakukan politik diskriminasi terhadap kepentingan agama atau kelompok lain. Menjadikan Islam sebagai Rahmatan lil alamin yang mampu melindungi semua elemen, menerapkan keadilan, dan kesejahteraan yang merata, serta bersama-sama menciptakan negeri yang “Baldatun thayyiban wa Rabbun ghafur”

Tercantum dalam Anggaran dasarnya sendiri, Partai Masyumi menjadikan Islam sebagai asasnya dan memiliki tujuan untuk menerapkan ajaran dan hukum Islam di masyarakat  Indonesia sebagai harapan agar negeri ini senantiasa diridhai. Kehidupan politik Islam sendiri sangatlah jelas bahwa apa yang terjadi dan dirumuskan haruslah berlandaskan Islam. Termasuk dalam memandang Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, merupakan bentuk ijtihad dari para ulama yang selayaknya harus dijaga dan diperjuangkan sepenuh hati. Jangan sampai kezaliman mencerai beraikan tatanan kehidupan, dan Islam harus hadir memberikan keadilan.

Partai Masyumi sendiri menawarkan gagasan-gagasan dalam konteks tatanan negara merujuk kepada Islam. Hal ini dipandang karena sistem-sistem yang ada dan buatan manusia telah gagal, seperti komunisme yang melahirkan diktator proletariat, kapitalisme yang membentuk jurang kesejahteraan manusia dengan menciptakan disparitas antara kelas, dan sekularisme yang berposisi netral dari agama dan mengedepankan supremasi kemanusiaan, hingga budaya materialisme yang mengubah paradigma masyarakat dan menghancurkan sendi-sendi kehidupan.

Islam sendiri menawarkan bahwa kehidupan Manusia sendiri perlu menyeluruh (Syamil), dan komplit (Mutakammil) di tengah pertarungan ideologi hari ini. Partai Masyumi memandang Indonesia bukanlah tempat pertarungan ideologi namun merupakan anugrah yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 “Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa…” yang berhasil merdeka atas jerih payah para ulama, santri, dan kyai. Maka, Islamlah menjadi solusi untuk merawat anugerah Rabb ini dan umat Islamlah yang memiliki saham terbesar untuk mengelolanya.

Partai Masyumi sendiri berpegang terhadap prinsip kesabaran, bagaimana dalam perjalananya partai ini senantiasa diuji oleh Allah baik dari Internal maupun eksernal. Baik dari mundurnya NU sebagai Organisasi pengusung utama, disusul pemberontakan DI/TII yang dipimpin oleh Kartosuwiryo yang tidak puas akan pemerintahan Soekarno karena terlalu mendeskritkan Islam, dan lebih mesra dengan kaum nasionalis sekuler dan PKI. Hingga banyaknya fitnah-fitnah yang dilancarkan kepada Masyumi oleh musuh-musuhnya sampai pada akhirnya Partai Ini dibubarkan oleh rezim Soekarno karena tidak sejalan dengan Narasi Nekolim dan dituduh sebagai pengkhianat revolusi.

Walau diakhir-akhir masanya, dituduh dan diftinah oleh banyak pihak, Partai Masyumi tetap sabar dan tidak mau berkonfrontasi dengan sesama anak bangsa. Hal ini dibuktikan dengan melawan dengan cara damai melalui gugatan pengadilan, walau akhirnya tetap kalah, mereka legowo dan membubarkan diri.

Pada saat-saat itu, Pak Natsir berkata bahwa dulu Masyumi berdakwah dengan politik, maka selanjutnya Masyumi berpolitik dengan berdakwah. Kata-kata terbukti walau sudah dibubarkanya Masyumi, para tokoh-tokohnya masih tetap terjun dalam dunia dakwah dengan membentuk organisasi seperti DDII dan lain-lainya. Kembali melakukan konsolidasi dari bawah, yaitu membangun generasi Islam dengan membina dan menyiapkanya untuk masa yang akan datang. Semua pasti ada masanya.

Dalam penegakan Islam sendiri Partai Masyumi sendiri berupaya untuk mempertahankan kedamaian di Indonesia, dengan cara mempersatukan semangat perjuangan  antar bangsa dan semaksimal mungkin memberikan kesejahteraan. Hal ini dibuktikan dengan adanya Mosi Integral Pak Natsir yang membuat bangsa ini secara hukum kembali kedalam negara kesatuan. Selain itu juga teladan-teladan dari tokohnya dalam memanfaatkan jabatanya. Tidak ada niat untuk memperkaya sendiri yang ini diperlihatkan dengan kesederhanaan hidup. Ambil contoh Pak Natsir yang menjadi Perdana Menteri namun rumahnya saja tak terlalu mewah dan bepergian terkadang tidak menggunakan mobil, namun bersepeda.

Selain itu Menteri Keuangan Syafrudin Prawiranegara mengambil harta seperlunya untuk kebutuhan hidup dengan tidak membagi-baginya kepada kas partai atau bahkan keluarga sendiri. Dilain waktu, ketika menjadi Presiden PDRI, ketika waktunya tiba beliau menyerahkan mandat kembali kepada Soekarno dan Hatta sebagai pemimpin yang sah, yang bisa jadi dia tetap mempertahankanya bahkan mengukuhkanya. Selain kedua tokoh ini masih banyak yang bisa menjadi contoh bagi masa sekarang, sebut saja Buya Hamka, H. Agus Salim, dan Prawoto Mangkusasmito.

Saat ini kita bisa melihat politik Islam saat ini belum dominan dalam pencerminan nilai-nilai Islam. Bagaimana hari ini kebijakan demi kebijakan secara nyata merugikan masyarakat kecil, sebut saja Industrialisasi, Food Estate, Omnibus Law, dan lain sebagainya. Selain itu, umat Islam baik 2 sisi di kubu calon hanyalah alat politik yang digunakan untuk memperoleh suara, yang kadang menguntungkan sebelah, merugikan lainya. Atau yang kadang bikin geleng-geleng, bagaimana kehidupan pribadi dari politisi-politisi ternama itu, menggunakan kepentingan negara untuk kantong pribadi, bagi-bagi jabatan, dan perbuatan zalim lainya yang tak patut untuk dijadikan contoh. Saat dua kubu kaum islam diadu, kaum yang lain tak ubahnya sama saja, mendeskritkan perjuangan saudaranya, yang pada akhirnya membuat umat sibuk dalam pertikaian hingga semakin menjauhkan persatuan umat Islam itu sendiri.

Partai Masyumi ini perlu untuk menjadi contoh bagi partai-partai sekarang, terutama yang menggunakan embel-embel Islam. Masyarakat sendiri bukanlah aset yang hanya dimanfaatkan dalam masa 5 tahunan belaka. Dalam konteks dakwah sendiri, kita perlu bersabar dalam setiap prosesnya namun bukan berarti pasrah terhadap keadaan semata. 

Partai Masyumi memberikan contoh dengan mengikuti jalur parlemen, meski tak sepi dari kritikan, terutama saat ini dengan pemahaman yang mengangap Demokrasi adalah sistem yang batil dan itu bisa jadi digunakan alat kepentingan kekuaaan. Namun Partai Masyumi menjawabnya dengan track record yang baik hingga disegani oleh musuh-musuhnya dan membuktikan bahwa tidak semuanya politik itu kotor, karena itu sebatas wadah tergantung orang yang mengisinya.

Partai Masyumi juga memberikan teladan, bahwa kejayaan terbentuk bukan hanya dibangun melalui uang dan kas partai, melainkan basis massa di akar rumput. Membina dengan tekun, membentuk paradigma yang lurus hingga menjadi penopangnya dalam perjuangan. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya pantas untuk menjadikan partai ini sebagai teladan. Dan yang terakhir mengambil pesan dari Ketua Umum Masyumi terakhir, Prawoto Mangkusasmito, “Rugi untungnya perjuangan harus dinilai dengan rugi untungnya Islam!”[]

Sumber foto : Wikipedia

Referensi : Artawijaya. 2014. Belajar dari Partai Masjumi. 

0 Komentar