Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat.
Barangkali kita memang tidak perlu definisi. Toh kita juga tidak butuh penjelasan untuk dapat merasakan terik matahari. Kita hanya perlu tahu cara kerjanya. Cara kerjanya itulah definisinya: karena -kemudian- semua keajaiban terjawab di sana.
Tulisan Ustadz Anis Matta ini sederhana namun dalam maknanya.
Perihal cinta dengan segala versi yang sedang kita rasakan, alih-alih menjadi semangat kehidupan, banyak diantara kita menghamba pada cinta semu dan terperangkap di dalamnya.
Masyhur sekali cinta dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Layla Majnun, dan juga Romeo Juliet.
Namun, tak kalah juga dengan cintanya Uwais Al-Qarni dengan ibunya, atau cinta Abu Bakar kepada Allah dan Rasul dibandingkan harta bendanya. Tak kalah juga, Khalid bin Walid dengan semangat jihad yang membuatnya tak sempat memegang Al-Quran dan merasakan nikmat dunia lainya.
Kita tahu akhir dari kisah mereka.
Sampai pada titik kita harus memilih, berada dalam kelezatan cinta yang dipadukan dengan iman atau dibutakan cinta lalu terlihat bodoh sampai menyesakan hati.
#BincangBuku

0 Komentar