Di Bawah Panji Estergon #BincangBuku

 Sejarah selalu berulang, tinggal kita saja yang mau belajar atau tidak. 










Umat mulia ini memiliki tugas yang besar sebagai Rahmatan lil Alamin, maka belajar sejarah adalah sebuah keharusan. Setiap masa memiliki fase kejayaan, juga fase yang selalu jatuh di lubang yang sama.

Dalam buku “Di Bawah Panji Estergon” yang ditulis Dr. Kasori Mujahid, saya menangkap sebuah pesan, bahwa tugas kita yang mengaku aktivis dakwah adalah melanjutkan estafet dan meminimalisir kesalahan yang sama. Kita tarik kebelakang, bagaimana peralihan Khulafaurrasyidin ke Bani Umayah memiliki sisi buruk dalam sejarah Islam, padahal sebagian dari mereka hidup di zaman Rasulullah. Sama halnya juga di zaman melemahnya Abbasiyah, dari pusat peradaban dunia, hancur seketika oleh bangsa mongol kala itu. Di Bumi Nusantara, kegemilangan Demak yang masyhur sampai timur tengah, hanya beberapa abad hilang karena perebutan tahta oleh generasi selanjutnya. Padahal, dakwah di Jawa adalah proses yang panjang para wali dengan segala dinamika yang ada di masing-masing zaman. Tapi, tak jauh dari setiap zaman juga, Allah menghadirkan hambanya yang tulus untuk memenangkan risalah dakwah. Sebut saja Umar bin Abdul Aziz permata Bani Umayah, Generasi Shalahuddin dengan penaklukan Al-Quds, dan yang tak kalah mentereng adalah Pangeran Mangkubumi dengan seruan jihad melawan penjajah yang akhirnya dilanjutkan juga oleh para cucunya, salah satunya Pangeran Diponegoro. Kemenangan Islam itu nyata dan kuasa Allah, semua itu tergantung ikhtiar dari masing-masing generasi, membaca perintah Allah dan bergerak dengan ketulusan hati. Ibnu Khaldun dalam pengamatanya melihat bagaimana bangkit dan runtuhnya generasi-generasi saat genap memiliki empat generasi. Generasi pertama adalah pembangun. Generasi yang menciptakan dasar-dasar dan asas tegaknya sebuah masa. Generasi kedua, adalah yang melanjutkan pembangunan asas tadi. Generasi ketiga, adalah masa ketika puncak kejayaan itu diraih. Sampai pada generasi keempat, bagaimana tatanan yang dibentuk sedemikian rupa hancur karena nafsu kekuasaan. Namun, di generasi ke empat itulah akan lahir-lahir para pembaharu, yang diantara mereka memegang teguh prinsip dan ketulusan dalam berdakwah, ditengah gempuran perang dengan musuh Islam atau bahkan antara umat Islam itu sendiri. Mengambil cuplikan dari buku Serpihan Identitas : Ketika membaca sejarah peradaban, kita akan menemukan satu kaidah bahwa saat sebuah peradaban sedang naik, maka sesungguhnya peradaban itu sedang dikendalikan oleh ruh. Sementara ketika peradaban berjalan mendatar maka yang mengendalikan adalah rasio dan akal. Dan ketika peradaban sedang menukik turun, maka berarti ia sedang dikendalikan oleh hawa nafsu dan syahwat. PR kita masih banyak, saatnya bergerak atau tergantikan, dalam misi menghantarkan umat di bawah Panji Estergon kembali, di bawah panji yang menciptakan kehidupan adil dan sejahtera untuk seluruh alam. #DiBawahPanjiEstergon #BincangBuku

0 Komentar