Yang Mendahului Zaman #BincangBuku


Namanya merbak dari tanah minang hingga Semenanjung Malaya. Dari telinga Soekarno hingga rakyat kecil di bumi nusantara, ia terkenal sebagai orang yang gigih dan cerdas dalam upaya mencerdaskan bangsa. Dia adalah
 Syekhah Rahmah El-Yunisiyah.

Seorang perempuan yang patut menjadi teladan bagi kaum perempuan masa kini, karena memiliki prinsip yang tegas dalam menjaga nilai-nilai Islam, terutama menjaga marwah perempuan. Seseorang yang berani mengancam petinggi militer jepang karena menculik gadis-gadis minang, menghindarkan calon-calon ibu bangsa itu ternodai hanya untuk pemuas nafsu para penjajah jepang belaka.

Seseorang yang berani mengambil komando tentara rakyat dalam menghadapi agresi militer belanda. Dengan gigih melakukan perang gerilya untuk menjaga kemerdekaan yang didapat dari pengorbanan darah para syuhada.

Senantiasa memiliki niat mulia untuk mendakwahkan Islam tanpa perlu menghabiskan waktu berdebat atas perbedaan. Memulai dengan langkah pembaruan pendidikan dengan membangun sekolah diniyah putri, dengan tujuan untuk mencerdaskan para ibu dan calon generasi umat mendatang.

Satu pelajaran yang paling berkesan bagi saya pribadi, adalah ketabahan yang dimilikinya saat membangun sekolah diniyah dari nol dengan harta bendanya. Sampai malapetaka hadir, bencana gempa melanda Negeri Minang kala itu. Rumah-rumah rata, masjid surau juga hancur begitu pula sekolah yang ia bangun rubuh bersamaan dengan semangatnya.

Namun, Rahmah bukanlah orang yang pantang menyerah. Ia kembali kumpulkan para guru dan murid-murid, bahu membahu memperbaiki apa yang bisa diperbaiki. Lalu selanjutnya, bergerilya kesana kemari untuk meminta bantuan kepada Raja-Raja Melayu untuk menyelamatkan aset penting umat ini.

Dalam hati beliau selalu meyakini tentang Firman Allah Surat Muhammad Ayat 7 :

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Maka, dalam berdakwah ini sejauh mana pengorbanan yang sudah kita diberikan. Akankah kita mengeluh dengan kesulitan yang dihadapi. Dari kurangnya dana, sedikitnya orang, dan banyaknya musuh yang menyerang.

Syekhah Rahmah El-Yunusiah setidaknya dapat memberi pelajaran bagi kita. Seorang perempuan hebat dimasanya dengan kiprah kepemimpinan dan cita-cita dakwahnya, sudah menjadi tugas seorang Dai/daiyah berkontribusi dengan apa yang ia miliki dengan tekad yang kuat serta selalu minta pertolongan dari Allah.

Bagaimana aktivis dakwah hari yang terlalu banyak mengeluh dengan aktivitasnya. Terasa penat dengan syuro-syuro yang dijalani. Lalu banyak diantaranya yang mabuk dalam virus merah jambu hingga lupa dengan tujuan aslinya.

Dakwah itu bukan soal eksistensi, namun tentang kontribusi. Dakwah harus berdampak, dan agen dakwah harus bisa mentransformasikan masyarakat menuju madani, dimulai dari hal kecil.

Sekolah Diniyah Putri dan pengaruhnya semakin dalam akarnya, meskipun Rahmah sudah tidak ada. Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.

Saya yakin di dalam umat ini akan muncul Rahmah-Rahmah baru untuk menyongsong dan mempersiapkan generasi terbaik umat.

Kita tunggu, biarkan sejarah yang bicara.

Surakarta, 28 Jumadil Awwal 1442 H

#BincangBuku #YangMendahuluiZaman

0 Komentar