Mas Sadli dalam buku barunya sangat banyak memberikan pengingat dalam aktivitas dakwah masa kini. Beliau mengalurkan novel pergerakan ini dengan baik lalu menyandingkanya dengan sejarah gerakan yang membuat saya pribadi merenungi beberapa hal.
Misal, cuplikan paragraf ini :
Ketika membaca sejarah peradaban, kita akan menemukan satu kaidah bahwa saat sebuah peradaban sedang naik, maka sesungguhnya peradaban itu sedang dikendalikan oleh ruh. Sementara ketika peradaban berjalan mendatar maka yang mengendalikan adalah rasio dan akal. Dan ketika peradaban sedang menukik turun, maka berarti ia sedang dikendalikan oleh hawa nafsu dan syahwat.
Paragraf ini setidaknya menjadi gambaran, baik di level atas dan bawah gerakan dakwah akan menjadi seperti itu, tergantung dimana kita memposisikanya. Kembali lagi soal niat.
Dalam perintah Allah, hendaklah "sebagian" kalian menyeru kepada kebaikan, dan sebagian itu ternyata memiliki dinamika di dalamnya, lantas bagaimana nasib umat? Maka, sekali lagi soal niat, sebelum masuk ke hal yang lebih operasional.
Saya jadi teringat sebuah nasihat, jalan dakwah ini panjang, buka kita yang harus menyelesaikanya sampai akhir, tapi bagaimana kita tetap berada di jalan dakwah ini, sampai maut memanggil.
Ada satu kutipan lagi yang cukup mengena :
Bahwa dakwah ini tak sekadar "simbol" saja, namun "sifat" yang terus hadir dan melekat untuk kebaikan umat. Hari ini, aktivis dakwah merasa wah dengan agenda bersama masyarakat dengan mempostingnya di media sosialnya. Yang kita tahu sekalian banyak diantaranya, sejatinya belum benar-benar dekat masyarakat. Namun, bukan menjadi sebuah masalah, mereka masih belajar dan butuh waktu.
Seperti perkataan Ali Bin Abi Thalib, "Bagaimana kekeruhan jamaah jauh lebih baik daripada kejernihan individu."
Bagaimanapun, berjamaah dan berukhuwah jauh lebih baik daripada sendiri-sendiri. Kuatkan barisan dan hatimu.
#SerpihanIdentitas #BincangBuku

0 Komentar