Andalusia dan 8 Dekade Ikhwan #BincangBuku

 

Buku "Kebangkitan Islam Andalusia" dan "8 Dekade Pergulatan Politik IM Menuju Kekuasaan" menurut saya memiliki benang merah perihal permasalahan umat dan juga solusinya. Kebetulan sekali kemarin dapat murah di obralan toko online dan kesempatan kali ini saya akan sedikit mengulasnya.

*

Andalusia merupakan sebutan tempat yang beradai di Spanyol hari ini. Dulu, Islam pernah berkuasa selama beberapa abad dan menjadi pintu pencerahan bagi benua eropa. Andalusia menjadi saksi bergantinya pimpinan dimulai Kekhalifahaan Umayah, Dinasti Muwahiddun, Kaum Magribi, sampai era Kerajaan-kerajaan kecil, salah satunya Emirat Granada yang terakhir. 

Dalam buku itu dijelaskan, saat penyerahan Kota Granada sebagai representasi Islam terakhir, umat Islam tak benar-benar musnah, banyak diantara mereka yang masih menetap/mengungsi di daerah pegunungan. Selain itu banyak diantara umat Islam yang memilih converso ke Kristen, tapi hanya sebatas wajah namun diam-diam masih melakukan ibadah Islam, tentu perilaku ini juga mendapat dukungan fatwa dari Ulama saat itu. 

Menurut penulis, setidaknya ada 2 faktor yang menyebabkan Islam hilang dari Andalusia :

1. Fitnah, perselisihan antara raja-raja kecil dan Imperium Islam lainya.

Sejak konsolidasi kerajaan kristen utara menguat, umat Islam di Andalusia sedang mengalami  perselisihan dan saling memfitnah satu sama lain. Ada kerajaan A berebut pengaruh dengan kerajaan B, kerajaan A meminta bantuan dengan orang kafir untuk melemahkan saudaranya, juga sebaliknya. Antara kerajaan tidak memiliki visi bekerja sama dalam kebaikan, mereka hanya memikirkan soal kekuasaan dan harta, akhirnya mudah untuk diadu domba musuh.

Selain itu Dinasti Utsmani juga tak banyak memberi bantuan, hanya sebagian elemen yang membantu namun tidak secara Institusi negara. Raja-Raja di Afrika utama pun sama, bahkan mereka berpura-pura menyiapkan pasukan untuk memberikan rasa aman semu, namun diam-diam bekerja sama dengan raja kristen dan hanya menyelamatkan bangsa mereka saja. 

2Persatuan, Moral, dan Pendidikan Islam

Masyarakat terbawa arus perpecahan elit kekuasaan, sebagian besar mereka juga melakukan hal-hal kotor untuk menjadi unggul dari yang lain. Umat tidak fokus kepada perbaikan moral, hanya sebagian kelompok-kelompok yang tetap teguh memegang ajaran Islam yang kuat, mereka biasanya ada di pedesaan/pegunungan yang di akhir Andalusia akan memberikan perlawanan, namun tak berarti karena jumlah mereka sedikit.

Kalau kita jeli, permasalahan kemunduran imperium Islam paling besar adalah dua hal itu. Kekuasaan menjadi contoh bagi tatanan sosial di bawahnya, namun pasti ada sebagian diantara mereka akan muncul golongan yang peka terhadap masalah dan fokus mencari solusi. Mereka ini adalah orang-orang terpilih, teguh memegang ajaran Islam dan akan muncul pembaharu pada setiap masanya.

*

Ikhwanul Muslimin adalah salah satu organisasi besar yang muncul di Mesir sebagai respon runtuhnya Kekhalifahan Turki Usmani. Meski awalnya muncul di zaman aristokrasi Mesir Islam, Mesir saat itu hanyalah boneka Inggris pasca Perang Dunia 1 dan kurang memperjuangkan kepentingan Islam secara global. Lahir di masa saat Islam tak memiliki pemerintahan yang kuat, Imam Hasan Al-Banna memandang bahwa kekhalifahan saat itu sebenarnya memang sudah mengalami kemunduran dari berbagai aspek, mulai dari melemahnya pengaruh, militer, dan moral pejabat pemerintahan. 

Imam Hasan Al-Banna dalam risalahnya sebenarnya tidak membawa hal-hal baru, namun beliau mengubah metodenya dengan pendekatan kultural lalu menumbuhkan semangat persatuan Islam di tengah konflik elit atau musuh-musuh Islam. Setidaknya Ikhwan mencoba untuk merekonstruksi  kembali pemahaman umat perihal Islam dalam kacamata awam, sekaligus bekerjasama dengan kelompok-kelompok agama yang sudah eksis, lalu dibingkai dalam ghiroh keislaman  dan amal jamai,  satu demi satu untuk mengembalikan umat ini pada tempat yang semestinya.

IM mengajak kembali untuk menumbuhkan mindset, bahwa Islam itu tak terbatas pada teritori Mesir, suku Arab, Turki dan lain-lainya, tapi semua Muslim yang ada di dunia ini harus bersatu untuk mencapai kejayaan dan soko guru peradaban. Selanjutnya, ditekakan juga soal pemahaman universalitas Islam yang berarti apa yang kita lakukan di dunia ini haruslah berlandaskan syariat Islam. Dan terakhir, satu hal yang perlu perhatian khusus adalah tarbiyah atau pendidikan Islam kepada umat itu sendiri.

Dalam menuju kejayaan Islam, IM tidak sepragmatis harus membentuk kekhilafahan Islam saat itu juga, tapi bagaimana membangun mindset itu tadi dalam setiap kadernya lalu ditransformasikan kepada masyarakat umum dengan tahap-tahap yang panjang. Menghadapi tantangan kaum imperialis, umat perlu dibekali dengan ilmu agar dapat membela dan mempertahankan diri, bahkan mempunyai kapabilitas untuk melakukan serangan balik. Bahwa kejayaan Islam tak dapat dicapai dengan cara instan, namun perlu proses yang panjang dimulai dengan memperbaiki setiap individu-individunya.

Tahapan dakwah IM : 

Perbaikan diri > Keluarga > Masyarakat > Kebijakan Negara > Islam Soko Guru Peradaban

Ikhwan bisa dibilang sebagai gerakan pembaharu yang akhirnya memberikan dampak juga inspirasi di negara-negara dunia ketiga dalam perskpektif kebangkitan Islam. Namun, bukan berarti Ikhwan tak memiliki dinamikanya selama berkiprah 80 tahun belakangan. Sama dengan Imperium Islam sebelumnya, bahwa dakwah akan senantiasa ditunggangi oleh orang munafik, yang akan menggerogoti baik secara pendidikan juga persatuan. 

Selain itu, Ikhwan menekankan pentingnya siyasah dalam dakwah, karena itu menjadi hal yang penting saat menghadapi rezim militer. Meski dalam tekanan Ikhwan mampu survive dan mengkonsolidasikan kader-kadernya,  dengan kesabaran dan berpegang teguhnya dalam hal-hal yang sifatnya asasi. 

Kurang lebih saya menangkap dua hal yang menjadi kekuatan Ikhwan ditengah gempuran musuh-musuh islam :

1. Penguatan Kualitas Masyarakat Sipil 

Dengan sayap yang dimiliki Ikhwan, kader-kader dibawah senantiasa berkhidmat dalam permasalahan masyarakat dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam gerakan-gerakan sosial, ikhwan hadir membantu langsung problem masyarakat, mulai dari pengajian pekanan, buta huruf, remaja dan agenda-agenda sosial lainya. Ikhwan sangat dekat dengan masyarakat, fardiyah ke warung kopi, pasar, dan pusat kerumuman masyarakat tanpa memandang status sosial. 

Dalam jangka panjang, ikhwan membentuk ikatan gerakan profesional seperti  dokter, guru, lawyer, dan lain-lainya sebagai bentuk pengkaryaan kader dalam hal-hal keahlian, sekaligus menguatkan peran mencerdaskan masyarakat sampai terbentuknya kualitas masyarakat sipil yang baik. Selain itu juga, pembentukan yayasan pendidikan yang independen dari tandzhim agar fokus dalam urusan mengkader dan tak terlalu terikat dalam kebijakan politik. Hal -hal itulah yang membuat ikhwan kuat, dicintai masyarakat dan eksis sampai junta militer as-sisi mengkudeta Presiden Mursi.  

2. Moderasi Beragama

Ikhwanul Muslimin pernah mengalami gesekan internal dalam hal pemikiran. Pertama corak pemikiran Fundamentalis Sayyid Qutb dan kedua pemikiran Moderat dari Mursyid 'Am Syekh Hasan Hudaibi. Dari pemikiran Sayyid Qutb inilah yang kedepan menginspirasi gerakan-gerakan Takfiri, Jihadi dan sebagainya, lalu memutuskan untuk keluar dari Ikhwan karena dianggap lunak melihat kezaliman. Namun pada akhirnya Syekh Hasan Hudaibi lah yang terpilih menjadi Pemimpin IM dengan pendekatan moderat, meski di kalangan pemuda Sayyid Qutb lebih populer.

Moderasi ini muncul sebagai bentuk respon pasca dibunuhnya Imam Hasan Al-Banna atas gerakan reaktif dari sayap Ikhwan. Keputusan itu diambil agar struktur gerakan bisa berjalan dengan baik dan tetap mampu menarik simpati masyarakat. Gerakan Moderasi poin berfokus kepada poin nomor satu diatas dan juga kolaborasi dengan pemerintahan untuk beriringan menyelesaikan permasalahan sosial yang ada. 

Gerakan Moderasi ini menilai bahwa perjuangan ini memiliki jalan yang panjang, maka jalan konfrontatif hanya akan menghancurkan gerakan ini lebih cepat, seperti wasiat yang disampaikan Imam Syahid Hasan Al-Banna. Buah dari model moderasi ini adalah penguatan kembali struktur Ikhwan yang solid, ketahanan organisasi, ekspansi dakwah yang lebih luas, penguatan kualitas masyarakat, sampai akhirnya Kader Dakwah siap untuk memegang amanah kekuasaan dalam upaya menciptakan keadilan dan kesejahteraan. 

*

Dari membaca 2 buku itu, salah satu solusi yang bisa kita lakukan hari adalah mulai belajar kembali siyasah dakwah Rasulullah yang mengilhami gerakan perlawanan Andalusia dan IM, dimulai dari manusianya. Dakwah itu bertahap, setiap prosesnya tak memiliki jalan pintas, maka kesabaran adalah kunci dalam setiap prosesnya. Selain itu, membaca perkembangan zaman juga menjadi hal yang penting, bahwa politik itu tak bisa dipandang hitam dan putih, kegamangan melihat situasi justru akan menjadi bomerang bagi diri sendiri. 

Andalusia dan Mesir telah menjadi pelajaran untuk kita hari ini. Selanjutnya kita hanya perlu berbenah dan terus berusaha, sisanya serahkan kepada Allah, sebaik-baiknya Penolong. 

0 Komentar