Buku Spirit Subuh ini tergolong buku yang ringan dibaca namun sarat akan refleksi. Melalui buku ini, kita disadarkan kembali bagaimana waktu subuh ini adalah titik perubahan bagi manusia.
Pada bab-bab awal buku, kita dihadirkan ironi-ironi pemuda muslim soal waktu subuh versi pengalaman penulis. Dimulai dengan kisah rapat pembahasan rekrutmen kader LDK, rapat berakhir larut malam itu membahas strategi dakwah dengan beragam cara menghadirkan tokoh besar, kemasan yang menarik dan juga followupnya seperti apa, namun ketika subuh, peserta rapat malah terlelap dalam selimut dan kesiangan sholat subuh.
Ada juga kisah, tentang sebuah lembaga yang fokus berdiskusi mengenai problematika umat dan pemikiran Islam kontemporer, sama seperti cerita diatas, bedanya mereka sibuk dengan diskusi sampai pagi, namun ketika waktu subuh datang mereka tak segera beranjak ke masjid bahkan memilih mengakhirkanya lalu tidur pagi.
Tentunya, masih banyak cerita ironi perihal waktu subuh, isinya mayoritas sekumpulan pemuda berbicara problematika umat, pola agendanya lebih menitikberatkan diskursus yang rumit namun lupa terhadap esensi dari dakwah itu sendiri, yaitu amalan ibadah dimulai dari sholat subuh berjamaah.
Tentu sudah mafhum bersama, bahwa sholat subuh menjadi titik tolak perubahan , memiliki keutamaan secara pahala dan juga aktivitas secara lahiriyah, beberapa diantaranya :
1. Terbebas dari api neraka
2. Masuk Surga
3. Mendapatkan keutamaan dunia dan seisinya
4. Ada waktu lebih dalam mempersiapkan hari
5. Diberikan ketenangan dalam menjalani aktivitas kehidupan
6. Terhindar dari sifat munafik
Waktu subuh jelas bermanfaat bagi umat Islam, kalau kita mengingat kembali cerita-cerita kejayaan dulu, sudah pasti kemenangan yang diraih adalah siapnya barisan saat fajar menyingsing.
Ada juga perkataan dari seorang Yahudi, "Kami takut terhadap umat Islam jika mereka melaksanakan sholat subuh seperti melaksanakan sholat jumat." Hal ini membuktikan bahwa kemuliaan sholat subuh menjadi kekuatan bagi seorang muslim, sekaligus kabar buruk bagi orang kafir.
Terakhir, buku ini setidaknya menghadirkan sebuah ibroh dari Nabi Muhammad shalallahu Alaihi Wasallam bagiamana membangun kebiasaan baik tak cukup hanya dengan mekanisme aturan yang mengikat, namun juga perlu dibarengi pemahaman yang rasional dari manusia itu sendiri.
Alkisah ada sahabat nabi yang sebelumnya kafir yang meminta masuk Islam, asalkan tetap diperbolehkan maksiat. Tentu hal tersebut menyulut emosi bagi beberapa sahabat nabi , namun Rasulullah punya cara berbeda dalam menghadapi permintaan fulan tersebut.
Rasulullah hanya mensyaratkan agar si fulan tak boleh berdusta atas apa yang diperbuatkannya dan suatu saat nanti akan ditanyakan kembali beberapa hal, kalau berbohong gugur akan gugur keislaman nanti. Melihat hal itu, si fulan malah berpikir keras ketika hendak melakukan maksiat, ia teringat janji kepada Rasulullah, bagaimana kalau ditanya nanti, dia berbohong atas maksiatnya, gugur sudah keislamanya.
Akhirnya dia mengurungkan niatnya, dan terus beribadah kepada Allah atas dasar taqwa, takut akan kehilangan rahmat dan syafaat dari Rasulullah.
Terkadang dengan cara pemaksaan atau membuat aturan tanpa memberikan kepahaman, tidak cukup efektif untuk membuat orang ikhlas dalam beribadah, tentu proses tarbiyah perlu beriringan dengan membentuk kepahaman yang baik, juga aturan yang mengikat guna membentuk kedisiplinan, salah satunya adalah pentingnya sholat subuh berjamaah tepat waktu.
#SpiritSubuh #Bincang Buku
Sumber foto : Google

0 Komentar