Masa kecilku adalah masa yang paling membahagiakan, masa di mana ketika hidup, beban terbesarnya adalah pr matematika hahaha.
Masa kecilku sendiri mayoritas dipengaruhi oleh lingkungan rumah dan juga sekolah. Saya hidup di lingkungan yang cukup agamis di sebuah musholla kecil. Ibu saya adalah orang yang paling berperan di fase ini karena beliau menekankan pendidikan Al-Quran sejak kecil, dimulai tartil, iqro, sampai bisa baca Al-Quran.
Saya masih ingat bagaimana bakda magrib harus belajar privat baca Quran, dimulai dengan cubitan, jewer telinga, dan lain-lainya, hingga saat SD awal saya sudah sampai di Juz Amma. Saat kecil juga saya sudah berani Adzan di Musholla, puasa 1 hari full, dan pemahaman agama di atas rata-rata, jelas ini semua peran dari ibu saya, makasih ibuk!
Saat TK dan SD, saya dimasukan di sekolah swasta yang cukup favorit. Taman kanak-kanak di RA Nawa Kartika dan MI Al-Falah Beran tingkat SDnya. 2 sekolah ini masih satu lingkungan, tempatnya nggak jauh dari rumah nenek yang juga rumah ibu waktu kecil, jadi kalau nunggu jemputan, biasanya sih ke rumah nenek. Sekolahnya sih nggak terlalu besar, namun saat itu sekolah sederhana ini bisa jadi sekolah favorit di Kabupaten Ngawi dibandingkan sekolah negeri lainya.
Jujur, ingatan soal masa TK dan SD nggak terlalu banyak. Saat SD saya hanya ingat kalau sudah bisa baca Quran kelas di kelas 2, kelas 3 dapat nilai 100 fiqih dan akidah akhlak. Saat kelas 2 saya selalu diantar ibu naik sepeda yang jaraknya sangat dekat dengan rumah, baru di kelas 4 dan 5 saya boleh bawa sepeda sendiri.
Saya ingat betul pelajaran yang saya suka adalah Sejarah Kebudayaan Islam, buku paketnya itu ada satu rubrik tentang Perang Hunain, saat umat Islam yang banyak itu harus kalah melawan musuh. Ada juga semacam ilustrasi buku yang terdiri beberapa tokoh, yang tokoh itu diimajinasikan punya pesawat kapsul waktu dari masa depan dan pergi ke zaman Rasulullah dan Abu Thalib berdagang ke Syam, bertemu dengan pendeta dan dinasihati untuk pulang karena punya tanda kenabian dan takut di bunuh orang yahudi. Ada juga kisah saat Isra' Mi'raj.
Yang bikin geregegatan adalah ilustrasi itu bersambung di buku paket selanjutnya, sampai saat naik kelas, ternyata sekolah tidak membeli buku yang sama dan akhirnya menimbulkan rasa penasaran yang mendalam. Namun dari peristiwa itu, akhirnya aku mulai suka dengan pelajaran sejarah terkhusus dengan sejarah Islam.
Lanjut ke masa-masa keemasan di SD, ada 2 peristiwa yang akhirnya menjadi titik balik seorang Aba Rohmad untuk aktif di organisasi sampai sekarang :
Pertama adalah ekstra pramuka, 2 tahun saat perkemahan tingkat kecamatan hampir dipastikan saya ikut menjadi delegasi dan menjadi pimpinan regu. Seperti yang disebutkan diatas, sekolah kami adalah sekolah favorit dan pramuka adalah salah satunya, seperti film 5 elang, kami regu pramuka sangat bersemangat untuk mengikuti perlombaan perkemahan dan menjadi juara umum di level SD.
Kami mengalahkan sekolah-sekolah favorit seperti SDN Margomulyo 1 sekolahnya anak pejabat, SD Muhammadiyah 1 yang dulu seperti perang antara NU dan Muhammadiyah, karena sekolah kami dibawah LP Maarif NU, dan yang terakhir adalah MIN Ngronggi, MI Negeri dibawah kemenag yang dulu seperti ada kesan kalau MIN adalah P3, kalau sekolah kami NU P Kabeh wkwk. Saya masih ingat kemenangan kami dirayakan dengan defile regu memutari buper yang terinspirasi dari pramuka SMA sekolah seberang, sekolah favorit yang akan menjadi SMA saya, SMAN 1 Ngawi.
Kedua adalah juara 1 cerdas cermat tingkat kecamatan. Vibesnya hampir sama dengan pramuka, namun disini sekolah kami kalau soal cerdas cermat hitunganya underdog. Saya waktu itu memang lebih menguasai di bidang non matematika, yang lain ahli di hitung-hitungan. Dari babak ke babak kami menyelesaikannya dengan baik sampai di final yang disiarkan radio pendidikan saat itu. Berbekal doa dan persiapan yang matang kami melewatinya dengan sengit, berhadapan dengan SD Margomulyo yang memang jadi momok utama dan akhirnya kami keluar sebagai juara 1 hehehe.
Cerdas cermat ini menjadi 1 fase penting dan menjadi cerita tersendiri saat masuk ke SMP dan SMA. Bahwa sekolah kami yang belajar agama tak kalah saing dengan sekolah negeri, sampai akhirnya kami yang bersaing saat cerdas cermat dulu, juga saat pramuka, bertemu di SMP dan melanjutkan persaingan kami di bidangnya masing-masing, InsyaAllah akan di bahas di part selanjutnya.
Di Kelas 6 ini nggak banyak cerita yang bisa saya banggakan, selayaknya anak SD saat itu saya baru dikhitan di kelas 6 dan tergolong telat dibandingkan kawan-kawan lainya, karena mereka rata-rata sejak kecil di khitan, pernah gara-gara ini saya mengalami perundungan dikira penakut, padahal ya emang penakut hahaha. Juga di kelas 5 dan 6 saya mendapat nilai 100 bulat dari ujian Bahasa Arab, yang memang saya saat itu benar-benar meneliti proses pengerjaan berulangkali untuk meneruskan tren nilai 100 itu.
Di kelas 6 ini juga saat liburan saya nonton film Negeri 5 Menara yang sangat membekas sampai sekarang. Karakter Alif ini adalah saya banget, orang yang sedang mencari makna hidup berpetualang sampai masuk ke pondok madani, yang setelah dewasa saya tahu itu adalah Pondok Gontor yang terkenal itu. Saya jadi pengen mondok setelah lihat film itu, asyik belajar dengan sohibul menara, bikin pentas seni, punya banyak kawan yang mendukung, dan keasyikan lainya, walau pada akhirnya cita-cita itu tak pernah tercapai dan saya akhirnya sekolah di SMP negeri.
Setelah dewasa saya menonton sekuel selanjutnya, Ranah 3 Warna, Alif yang sudah dewasa dan saya juga sangat relate sekali kehidupanya, apalagi saat Alif gagal di masalah percintaan, pleek banget dengan saya hahaha tapi harapanya kesuksesanya bisa nular, amiin.
Terakhir di tulisan ini, saya ingin memberikan rasa terimakasih terkhusus Ibu yang menjadi madrasah pertama sampai bisa ke tahap ini, pun saya juga nggak akan berani membagikan tulisan ini ke beliau karena malu anaknya belum bisa menjadi orang besar, juga kepada Ustadz/ah selama di MI yang mau membimbing yang akhirnya memberikan paradigma agama kuat sampai dewasa sekarang, terkhusus guru favorit saya, Ibu Heni Retno Rina Tri Susanti, Ibu guru matematika yang menyenangkan, membersamai dari lomba pramuka, cerdas cermat, dan yang paling nyebelin adalah sering comblangin saya dengan murid favoritnya itu hehehehe.
Bersambung...
Surakarta, 23 Juni 2023
Menuju Seperempat Abad, Aba Rohmad!


0 Komentar