Mudik Ke Surga


10 Hari terakhir Ramadan menjadi momentum yang dahsyat bagi kalangan Muslimin di seluruh dunia,sebuah kesempatan yang tidak akan disia-siakan oleh kita sebagai hamba yang bertakwa.Seluruh masjid serasa bergema akan lantunan ayat suci Al-Quran dan juga dzikir terhadap Allah mengingat akan seluruh dosa dan berharap diampuni seluruhnya.

Iktikaf orang menyebutnya semacam "Olah batin" di dalam Masjid.Memarkirkan kehidupan untuk sejenak atas kesibukan duniawi dan sejenak mengingat Tuhan yang telah menciptakan kehidupan ini.Syukur terhadap kemurahan Allah bahwa hampir tidak ada kaum muslimin yang berpikir bahwa ibadah yang kita lakukan hanyalah pemborosan materi dan waktu.Bahkan di tengah materialisme yang dipelopori oleh peradaban global justru membuat kaum muslimin menemukan kembali kemesraanya dengan Allah melalui iktikaf yang menjadi agenda yan semakin romantis dan penuh cinta bagi mereka.

Iktikaf sendiri ibarat pembebasan diri dari dunia,kita tidak boleh melarikan diri dari dunia,namun kita ini telah dimandatani untuk mengelola dunia.Tidak ada makhluk yang sempurna selain kita yang menjadi mandataris,Khalifah di Bumi.Bukan berarti iktikaf memerdekakan diri dari dunia.Opsi yang lebih proporsional semacam mengambil jarak sejenak dari dunia agar kita dapat muhasabah diri sehingga kita bisa lebih matang dan dewasa untuk mengkhalifahi dunia ini.

Iktikaf ibarat mudik,Perjalanan menuju diri sejati.Kalau Sunan Kalijaga mengibaratkan "Sajitining Roso,Sajitining Jiwo,Sajitining Sukmo"  Menyatu dengan rasa,jiwa,sukma untuk bersilaturhmi kepada Allah.Mudik bagi sebagian orang ialah mengunjungi saudara kita yang jauh pada idul fitri untuk menyambung tali silaturahmi antara Trah keluarga besar yang ada di desa.Menyambung silaturahmi dapat memperpanjang umur manusia dan meningkatkan taraf kebahagiaan.Lihat saja apa dampak dari idul fitri mulai dari jajanan laku,sopir-sopir dapat jatah nyopir,perekonomian naik signifikan,pendapatan masyarakat naik karena tumbuhnya ekonomi tanpa harus hutang dan impor luar negeri.

Namun sejatinya kita terlalu fokus terhadap hubungan antara manusia namun kita lupa akan mudik terhadap Sang Pencipta.Bukankah kita selalu mendambakan surga dari kecil hingga dewasa,masih ingatkah kita ketika ustadz-ustadz kita bertanya kepada kita saat TPA dulu."Siapa yang mau masuk surga?' dengan serempak kita menjawab "Saya! Saya! Saya!." Ada hal yang sederhana nasehat dari ustadz TPA bahwa kita kalau ingin masuk surga syaratnya gampang,Mendekatlah kepada Allah dan berbuat sesuatu hanya untuk mencari ridho-Nya.Hal yang sangat sederhana namun sering kita melupakannya.

Tujuan mudik satu-satunya adalah ke Surga dan bertemu dengan-Nya,satu-satunya jalan adalah memakai cara pandang Tuhan.Materi,kekayaan,tumpukan modal,citra,jabatan 2 periode,dan semua yang tampak di depan mata tidak akan berguna di hadapan Allah,tanpa ridho-Nya semua akan sia-sia.Kita ini hidup di hadapan Allah,memang ada tempat selain itu untuk hidup?

Aba Rohmad N.
Rabu, 6 Syawal 1439 H

1 Komentar